Geo-Politik

ASEAN dan Tantangan Kohesi di Tengah Kompetisi AS-China di Indo-Pasifik

25 Juni 2026 Asia Tenggara, Indo-Pasifik 9 views

Kompetisi strategis AS-China menguji kohesi dan sentralitas ASEAN, dengan perpecahan pandangan di antara negara anggota mengancam netralitas dan relevansi kolektif organisasi. Sebagai kekuatan tengah, Indonesia memiliki kepentingan vital untuk memimpin konsolidasi internal dan mendorong AOIP sebagai platform inklusif demi menjaga stabilitas regional yang menjadi dasar kepentingan strategisnya. Kegagalan ASEAN bersuara satu hati berisiko menjadikan kawasan sebagai arena proxy conflict, sehingga penguatan ketahanan dan kemandirian kawasan menjadi imperatif strategis jangka panjang.

ASEAN dan Tantangan Kohesi di Tengah Kompetisi AS-China di Indo-Pasifik

Landskap strategis Indo-Pasifik semakin terdiferensiasi oleh intensifikasi persaingan hegemoni antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat China. Dalam pusaran dinamika ini, ASEAN menghadapi tekanan eksistensial untuk mempertahankan kohesi internal dan sentralitasnya sebagai penggerak arsitektur kawasan. Penelitian mutakhir dari ISEAS-Yusof Ishak Institute mengkonfirmasi fragmentasi persepsi di kalangan negara anggota, di mana beberapa memandang keterlibatan AS sebagai penyeimbang yang diperlukan, sementara yang lain lebih menitikberatkan pada hubungan ekonomi yang simbiosis dengan China. Perpecahan fundamental ini bukan hanya menyoal preferensi kebijakan luar negeri, melainkan mengindikasikan sebuah strategic dilemma yang dapat melumpuhkan kapasitas kolektif organisasi.

Dilema Strategis ASEAN dalam Arsitektur Keamanan Indo-Pasifik

Dilema utama yang dihadapi ASEAN terletak pada upaya mempertahankan netralitas operasional sembari merespons tuntutan konkret dari kedua kekuatan besar. Konsep ‘ASEAN Outlook on the Indo-Pacific’ (AOIP) yang diusung Indonesia, sebagai ketua saat ini, dimaksudkan sebagai platform inklusif dan netral. Namun, efektivitasnya teruji ketika berhadapan dengan realitas aliansi-aliansi minilateral seperti AUKUS (Australia, Inggris, AS) dan QUAD (Amerika Serikat, Jepang, India, Australia) yang secara substansial mengubah kalkulus keamanan regional. Ketidakmampuan ASEAN untuk menghasilkan respons kolektif yang koheren dan tegas terhadap inisiatif-inisiatif tersebut berpotensi mengikis relevansi politiknya, mengubah kawasan dari subjek menjadi sekadar objek dalam kompetisi strategis.

Posisi dan Kepentingan Strategis Indonesia

Sebagai de facto kekuatan tengah dan pemimpin tradisional di ASEAN, Indonesia memikul tanggung jawab geopolitik yang signifikan. Kepentingan strategis nasional Indonesia sangat terkait erat dengan stabilitas regional, yang merupakan prasyarat mutlak bagi keberlanjutan pembangunan ekonomi, realisasi poros maritim dunia, dan penguatan konektivitas. Setiap gejolak yang melemahkan kohesi ASEAN secara langsung mengancam lingkungan strategis Indonesia. Oleh karena itu, diplomasi Jakarta harus beroperasi pada dua tingkat: pertama, memperkuat solidaritas internal ASEAN melalui konsensus dan mekanisme dialog; dan kedua, secara aktif membangun jembatan dengan semua pihak eksternal untuk mencegah polarisasi lebih lanjut dan memastikan prinsip ketahanan kawasan tetap terjaga.

Implikasi jangka panjang dari ketegangan ini bersifat multidimensi. Di satu sisi, fragmentasi internal ASEAN dapat mendorong negara-negara anggota untuk semakin bergantung pada jaminan keamanan unilateral dari salah satu kekuatan besar, suatu skenario yang dapat memicu perlombaan senjata dan ketidakstabilan di kawasan. Di sisi lain, jika ASEAN mampu mengonsolidasikan posisinya, organisasi ini dapat berperan sebagai stabilizer dan rules-setter yang kredibel. Risiko terbesar terletak pada kemungkinan negara-negara ASEAN dijadikan proxy atau arena perwakilan konflik kepentingan AS-China, yang akan sangat merugikan kedaulatan dan keamanan nasional masing-masing negara, termasuk Indonesia.

Dalam konteks ini, penguatan ketahanan dan kemandirian kawasan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan strategis. Indonesia, dengan kapasitas dan pengaruhnya, perlu memimpin inisiatif nyata di luar retorika diplomasi. Ini mencakup penguatan kerjasama maritim untuk mengamankan jalur perdagangan vital, pengembangan kapasitas keamanan siber kolektif, serta pendalaman integrasi ekonomi intra-ASEAN untuk mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi hubungan dengan kekuatan eksternal. Masa depan ASEAN dan posisi Indonesia di Indo-Pasifik akan sangat ditentukan oleh kemampuan kolektif menghadapi ujian kohesi ini dengan visi yang jelas dan tindakan yang terkoordinasi.

Entitas yang disebut

Organisasi: ASEAN, ISEAS-Yusof Ishak Institute

Lokasi: Amerika Serikat, China, Indonesia, Indo-Pasifik