Kebijakan Pertahanan
Evolusi NATO Pasca-Ukraina: Implikasi bagi Keamanan Regional dan Postur Pertahanan Indonesia
Invasi Rusia ke Ukraina telah memicu transformasi strategis NATO yang paling signifikan sejak Perang Dingin. Aliansi ini tidak hanya mengonsolidasikan kekuatan militer di Eropa Timur tetapi juga secara resmi memperluas cakupan pandangan strategisnya ke Indo-Pasifik, dengan pembentukan Kantor Perwakilan di Jepang dan kerja sama yang diperdalam dengan mitra seperti Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru. Evolusi ini mencerminkan narasi bahwa keamanan Eropa dan Asia kini tak terpisahkan. Perkembangan ini berpotensi mengubah lanskap keamanan di kawasan Indonesia. Di satu sisi, ini bisa menambah tekanan terhadap China dan berpotensi memicu siklus eskalasi militer. Di sisi lain, hal ini mendorong aliansi-aliansi mini seperti AUKUS dan QUAD menjadi lebih kohesif. Bagi Indonesia, yang berkomitmen pada 'free and active' foreign policy, tantangannya adalah menjaga otonomi strategis tanpa terisolasi. Posisi netral aktif diuji oleh semakin terbukanya 'blokisasi' keamanan di kawasan. Respons Indonesia perlu mencakup penguatan kapabilitas pertahanan mandiri, diplomasi ASEAN yang lebih proaktif dalam mengelola hubungan dengan kekuatan ekstra-kawasan, dan penegasan bahwa arsitektur keamanan kawasan harus dipimpin oleh negara-negara ASEAN sendiri.