Dominasi teknologi kecerdasan buatan telah menandai medan pertarungan geopolitik baru abad ke-21, di mana ASEAN sebagai kekuatan ekonomi kolektif terdepan di Asia Tenggara dihadapkan pada ujian kritis untuk mempertahankan agensi strategisnya. Laporan *'ASEAN Focus: Navigating the AI Era'* (Oktober 2025) mengungkap kerawanan mendasar yang mengancam kohesi dan posisi tawar regional: kesenjangan kapasitas yang lebar dan multidimensional. Fakta bahwa hanya Singapura dan Malaysia yang masuk kategori kesiapan tinggi, sementara mayoritas anggota—termasuk raksasa demografi dan ekonomi seperti Indonesia—masih pada tahap perkembangan awal, bukan sekadar masalah pembangunan digital internal. Ini adalah kelemahan struktural yang, jika tidak segera ditangani, akan memposisikan kawasan ini sebagai ajang rebutan pengaruh yang pasif, sekadar konsumen pasar yang diperebutkan oleh raksasa teknologi global, bukan sebagai aktor yang menentukan arsitektur tata kelola teknologi masa depan.
Dinamika Kekuatan: ASEAN di Antara Persaingan AS-China
Persaingan strategis antara Amerika Serikat dan China di bidang teknologi telah mentransformasi lanskap kapasitas digital ASEAN menjadi medan proxy yang genting. Masing-masing blok, melalui perusahaan teknologi raksasanya, tidak hanya mengejar dominasi pasar, tetapi juga upaya menetapkan standar dan norma yang akan membentuk ekosistem AI global. Dalam konteks ini, kesenjangan kesiapan antarnegara anggota menciptakan tekanan geopolitik yang asimetris. Negara dengan kesiapan tinggi seperti Singapura memiliki ruang manuver yang lebih lebar untuk mengadopsi, beradaptasi, dan bahkan merumuskan regulasi mandiri. Sebaliknya, negara dengan kesiapan rendah menghadapi risiko yang jauh lebih besar: ketergantungan teknologi pada satu pihak, kerentanan keamanan siber, dan tereduksinya kedaulatan kebijakan atas data dan algoritme. ASEAN Secretariat, yang berusaha mendorong kerangka kolaboratif, pada praktiknya menghadapi tantangan untuk menyelaraskan kepentingan nasional yang sangat beragam di bawah bayang-bayang persaingan bipolar ini.
Bagi Indonesia, posisi dalam spektrum kesiapan ini bukanlah persoalan teknis belaka, melainkan persoalan mendasar bagi visi poros maritim dunia dan kemandirian strategisnya. Kesenjangan kapasitas yang lebar, mencakup infrastruktur, regulasi, investasi, dan budaya digital, berpotensi melemahkan pondasi ekonomi digital yang menjadi tulang punggung transformasi ekonomi nasional. Dalam jangka pendek, ketertinggalan dapat mengurangi daya saing industri dan ketahanan rantai pasok. Lebih mengkhawatirkan lagi adalah implikasi jangka panjang pada keamanan nasional: kedaulatan data yang tergerus, kerentanan sistem pertahanan dan infrastruktur kritis terhadap serangan siber berbasis AI, serta ketergantungan pada teknologi asing yang dapat digunakan sebagai alat tekanan politik. Oleh karena itu, upaya percepatan pembangunan infrastruktur digital, pengembangan talenta, dan perumusan regulasi kecerdasan buatan yang jelas dan protektif harus ditempatkan dalam kerangka kebijakan pertahanan dan keamanan nasional yang komprehensif.
Imaji Kemandirian Strategis dan Masa Depan Arsitektur Kawasan
Dilema yang dihadapi ASEAN mencerminkan paradoks era digital: interdependensi global yang tinggi justru menuntut tingkat kapasitas dan kemandirian yang lebih besar untuk menjaga kedaulatan. Jika blok regional ini gagal mengembangkan pendekatan bersama yang koheren, bukan hanya kesenjangan internal yang akan melebar, tetapi posisi kolektifnya dalam percaturan global akan semakin terpinggirkan. Tantangannya adalah merancang strategi yang melampaui sekadar menyerap teknologi impor. ASEAN harus secara kolektif mendorong inovasi lokal, membangun pusat penelitian dan pengembangan yang kompetitif, serta—yang paling krusial—merumuskan kerangka regulasi AI yang mencerminkan nilai, kepentingan, dan kondisi sosial-ekonomi kawasan. Regulasi semacam ini akan berfungsi sebagai tameng untuk melindungi kepentingan strategis negara-negara anggota sekaligus sebagai landasan untuk terlibat secara setara dalam pembuatan standar global.
Refleksi akhir menunjukkan bahwa penguasaan kecerdasan buatan telah menjadi salah satu penentu utama balance of power di abad ini. Bagi ASEAN dan Indonesia, membangun kapasitas digital yang tangguh dan merata bukan lagi pilihan, melainkan imperatif eksistensial untuk menghindari perangkap ketergantungan teknologi dan memastikan bahwa kawasan ini tetap menjadi subjek, bukan objek, dalam alur sejarah geopolitik yang tengah berlangsung. Keberhasilan atau kegagalan dalam navigasi era AI ini akan sangat menentukan apakah ASEAN dapat mempertahankan relevansinya sebagai blok yang stabil, makmur, dan berdaulat di tengah pusaran persaingan kekuatan besar, atau justru terfragmentasi dan kehilangan agensi strategisnya di panggung dunia.