Kebijakan Pertahanan
Geopolitik Indonesia di Tengah Eskalasi Ketegangan AS-Iran dan Kerentanan Energi Global
Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk Persia bukan hanya konflik bilateral, tetapi sinyal terhadap rapuhnya tatanan internasional. Kawasan ini memiliki arti vital bagi stabilitas energi global, dengan Selat Hormuz sebagai arteri bagi sepertiga perdagangan minyak dunia. Setiap gangguan di jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi yang efek dominonya menjalar ke biaya logistik, harga pangan, dan daya beli masyarakat secara global. Situasi ini semakin kompleks karena terjadi bersamaan dengan konflik Rusia-Ukraina yang belum terselesaikan dan rivalitas AS-China di Indo-Pasifik yang terus memanas, menandai fase ketidakpastian multipolar.
Dinamika ini secara langsung menguji ketahanan ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak. Perekonomian nasional menjadi rentan terhadap fluktuasi harga dan gangguan pasokan. Analisis dari Dewan Pakar BPIP ini menekankan bahwa dalam sistem multipolar yang rapuh, politik kekuatan kembali menjadi instrumen utama negara-negara besar. Hal ini berisiko menggeser prioritas global dari kerja sama ekonomi menuju kalkulasi keamanan yang sempit, yang dapat menghambat pemulihan ekonomi pascapandemi dan memperlebar ketimpangan antarnegara.
Implikasi strategis bagi Indonesia adalah perlunya penguatan diplomasi damai yang proaktif, tidak hanya sebagai penonton. Politik luar negeri bebas aktif harus berfungsi sebagai jangkar untuk menjaga kepentingan nasional sekaligus berkontribusi pada stabilitas kawasan. Dalam jangka pendek, diversifikasi sumber energi dan penguatan ketahanan logistik menjadi langkah mendesak. Jangka panjang, transisi menuju energi terbarukan dan penguatan industri hilir berbasis sumber daya domestik adalah keniscayaan untuk membangun kedaulatan ekonomi yang lebih tahan terhadap gejolak geopolitik energi global.
Entitas yang disebut
Organisasi: Dewan Pakar BPIP
Lokasi: Indonesia, Amerika Serikat, Iran, Teluk Persia, Selat Hormuz, Rusia, Ukraina, China, Indo-Pasifik