Kebijakan Pertahanan
Kebangkitan Poros Rusia-Korut: Implikasi terhadap Keseimbangan Kekuatan di Asia Timur dan Non-Proliferasi
Peningkatan tajam dalam kerja sama militer dan teknologi antara Rusia dan Korea Utara (Korut) pada 2025 menandai terbentuknya poros strategis baru yang mengubah kalkulasi keamanan di Asia Timur. Kerja sama ini bersifat simbiosis: Korut diduga memasok amunisi artileri dan rudal konvensional untuk mendukung usaha perang Rusia di Ukraina, sementara Rusia dikabarkan memberikan transfer teknologi terkait kemampuan nuklir dan rudal balistik, yang melanggar rezim sanksi internasional. Poros ini tidak hanya memperkuat posisi tawar Pyongyang tetapi juga memberikan Rusia titik tekan strategis tambahan di kawasan Indo-Pasifik, mengganggu upaya diplomasi AS dan sekutunya. Bagi Indonesia dan ASEAN, kebangkitan poros ini memperumit lanskap keamanan regional, mengingat ASEAN berkomitmen pada Zona Bebas Senjata Nuklir di Asia Tenggara (SEANWFZ). Setiap pelemahan rezim non-proliferasi global, termasuk transfer teknologi sensitif, meningkatkan risiko proliferasi vertikal dan horizontal, yang pada akhirnya dapat mendestabilisasi kawasan yang lebih luas. Situasi ini menuntut ASEAN untuk lebih vokal dalam mendorong dialog dan kepatuhan terhadap hukum internasional, sekaligus mengingatkan bahwa stabilitas Asia Tenggara tidak dapat dipisahkan dari dinamika di Asia Timur.
Entitas yang disebut
Organisasi: ASEAN
Lokasi: Rusia, Korea Utara, Korut, Ukraina, Asia Timur, Indo-Pasifik, AS, Indonesia, Asia Tenggara, Pyongyang