Kebijakan Pertahanan
Kunjungan Prabowo ke Beijing: Menegaskan Kedaulatan di Natuna dalam Kerangka Kerja Sama
Kunjungan Presiden Indonesia Prabowo Subianto ke Beijing pada September 2025 menjadi studi kasus diplomasi cerdas Indonesia di tengah kompleksitas geopolitik Laut China Selatan. Dalam pertemuan dengan Presiden Xi Jinping, Prabowo berhasil menyampaikan dua pesan yang tampak paradoks namun esensial secara bersamaan: penegasan komitmen Indonesia untuk menjaga kedaulatan dan hak berdaulatnya di sekitar Kepulauan Natuna yang bertentangan dengan klausa 'nine-dash line' China, dan pembukaan ruang untuk memperdalam kerja sama maritim dan ekonomi bilateral. Pendekatan ini konsisten dengan politik luar negeri bebas-aktif dan berlandaskan hukum internasional, khususnya UNCLOS 1982. Dinamika aktor dalam isu ini melibatkan tidak hanya Indonesia dan China, tetapi juga negara-negara ASEAN lain dan kekuatan eksternal seperti AS. Implikasi jangka pendek adalah terkendalinya potensi insiden di lapangan dan terjaganya hubungan ekonomi yang vital. Jangka panjang, keberhasilan diplomasi ini terletak pada kemampuan Indonesia mendorong finalisasi Code of Conduct (CoC) ASEAN-China yang substantif dan mengikat, di mana Indonesia dapat memainkan peran katalisator. Langkah ini menunjukkan bahwa di tengah rivalitas besar, negara menengah seperti Indonesia dapat menjaga kepentingan nasional tanpa terjebak dalam konfrontasi langsung, dengan mengedepankan hukum dan diplomasi multilateral melalui ASEAN.
Entitas yang disebut
Orang: Prabowo Subianto, Xi Jinping
Organisasi: ASEAN, AS
Lokasi: Beijing, Indonesia, China, Kepulauan Natuna, Laut China Selatan