Teknologi
Perang Dagang Chip AS-China dan Dampaknya pada Strategi Industri Pertahanan Indonesia
Eskalasi pembatasan ekspor AS terhadap teknologi semikonduktor canggih ke China, yang diperbarui pada awal 2025, telah menciptakan gangguan rantai pasok global. Fakta ini berdampak langsung pada rencana modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) Indonesia yang banyak bergantung pada komponen elektronik impor, dari sistem kendali pesawat hingga komunikasi tempur. Dinamika aktor didominasi oleh dua kutub teknologi, dengan Eropa, Korea Selatan, dan Taiwan terdorong untuk memilih sisi, sementara negara-negara berkembang seperti Indonesia terjepit dalam ketergantungan teknologi. Analisis menunjukkan, kebijakan 'China Plus One' dan dorongan reshoring oleh AS justru membuka peluang sekaligus tantangan. Implikasi jangka pendek: proyek-proyek pertahanan seperti pengembangan drone dan sistem radar mungkin mengalami penundaan atau kenaikan biaya. Jangka panjang, kepentingan strategis Indonesia menuntut lompatan dalam penguasaan teknologi kritis. Ini memerlukan evaluasi mendasar terhadap kemitraan teknologi pertahanan (apakah lebih ke Barat atau Timur), serta percepatan program seperti 'Making Indonesia 4.0' yang harus memasukkan prioritas pada industri komponen elektronik dan semikonduktor untuk keamanan nasional, mengurangi kerentanan akibat gejolak geopolitik pihak ketiga.
Entitas yang disebut
Organisasi: AS, China
Lokasi: Indonesia, Eropa, Korea Selatan, Taiwan