Kebijakan Pertahanan

Pergeseran Aliansi Keamanan di Indo-Pasifik: QUAD, AUKUS, dan Pilihan Strategis Indonesia

11 Mei 2026 Indo-Pasifik, ASEAN, Amerika Serikat, China, Australia 6 views
Pergeseran Aliansi Keamanan di Indo-Pasifik: QUAD, AUKUS, dan Pilihan Strategis Indonesia
Lanskap keamanan di kawasan Indo-Pasifik mengalami transformasi mendalam dengan menguatnya arsitektur aliansi minilateral yang dipimpin Amerika Serikat, yakni QUAD (Amerika Serikat, Jepang, India, Australia) dan AUKUS (Amerika Serikat, Inggris, Australia). Keberadaan kedua pengelompokan ini, khususnya AUKUS yang melibatkan transfer teknologi kapal selam bertenaga nuklir ke Australia, merepresentasikan respons strategis terhadap kebangkitan dan asertivitas China di kawasan. Mereka berfungsi sebagai kerangka kooperasi keamanan dan teknologi tinggi yang dirancang untuk menciptakan deterensi kolektif dan menjaga keseimbangan kekuatan (balance of power), sekaligus menandai pergeseran dari paradigma aliansi tradisional ke bentuk kemitraan yang lebih fleksibel dan berfokus pada tantangan spesifik. Munculnya blok-blok keamanan baru ini menempatkan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, pada posisi dilematis. Di satu sisi, kekuatan kolektif QUAD dan AUKUS dapat berperan sebagai penyeimbang terhadap tekanan China, khususnya di Laut China Selatan dan Selat Taiwan. Di sisi lain, mereka berpotensi memicu siklus eskalasi keamanan, mempolarisasi kawasan menjadi kubu pro-AS dan pro-China, dan pada akhirnya mengikis sentralitas ASEAN sebagai platform utama dialog dan keamanan regional. Indonesia, dengan tradisi politik luar negeri bebas-aktif dan komitmen pada ZOPFAN (Zone of Peace, Freedom, and Neutrality), secara prinsip menolak untuk terjebak dalam logika aliansi militer eksklusif yang dapat memicu perlombaan senjata. Implikasi strategis bagi Indonesia adalah perlunya diplomasi yang cermat dan proaktif. Indonesia tidak dapat mengabaikan realitas geopolitik baru yang dibentuk QUAD dan AUKUS, tetapi juga tidak boleh serta merta bergabung atau mendukungnya secara terbuka yang dapat merusak hubungan dengan China dan mengganggu kohesi ASEAN. Pilihan strategis yang lebih viable adalah memperkuat kapasitas pertahanan nasional secara mandiri, mendalami kemitraan keamanan bilateral yang selektif dengan anggota QUAD (seperti dengan AS dan Australia) dalam isu-isu non-kontestasi seperti keamanan maritim, terorisme, dan bantuan kemanusiaan, dan secara simultan menggalang suara kolektif ASEAN untuk memastikan bahwa format minilateral apapun tidak merusak stabilitas kawasan atau meminggirkan peran ASEAN. Jangka panjangnya, Indonesia harus menjadi jangkar stabilitas yang menjaga agar kompetisi kekuatan besar tidak berubah menjadi konflik terbuka di wilayah sekitarnya.