Kebijakan Pertahanan

Pivot ke Pasifik: Analisis Modernisasi Militer Filipina dan Implikasinya bagi Keseimbangan Kekuatan di Laut China Selatan

29 Juni 2026 Filipina, Laut China Selatan, Asia Tenggara 10 views
Pivot ke Pasifik: Analisis Modernisasi Militer Filipina dan Implikasinya bagi Keseimbangan Kekuatan di Laut China Selatan
Menghadapi tekanan maritim dari China di Laut China Selatan, Filipina meluncurkan program modernisasi militer paling ambisius dalam beberapa dekade, dengan anggaran pertahanan meningkat signifikan untuk memperkuat angkatan laut dan udara. Program ini mencakup pengadaan kapal selam, kapal perang patroli jarak jauh, pesawat tempur multirole, serta penguatan sistem radar dan pengawasan maritim. Langkah ini tidak hanya respons defensif terhadap insiden di Second Thomas Shoal, tetapi juga bagian dari integrasi yang lebih dalam ke dalam arsitektur keamanan yang dipimpin AS, termasuk Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA) yang memberi akses basis militer tambahan kepada Amerika Serikat. Modernisasi Filipina mengubah kalkulus keamanan di ASEAN, mendorong negara anggota lain seperti Vietnam dan Indonesia untuk mengevaluasi postur pertahanan mereka. Bagi Indonesia, ini memperkuat pentingnya menjaga netralitas aktif sambil secara diam-diam meningkatkan kemampuan pengawasan dan penegakan hukum di Natuna serta perbatasan maritim lainnya. Pergeseran ini berpotensi mempolarisasi ASEAN jika tidak dikelola dengan hati-hati, di satu sisi meningkatkan daya tawar kolektif terhadap China, di sisi lain mengikis sentralitas ASEAN jika anggotanya semakin bergantung pada perlindungan eksternal.

Entitas yang disebut

Organisasi: ASEAN, Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA)

Lokasi: Filipina, Laut China Selatan, China, Second Thomas Shoal, Amerika Serikat, Vietnam, Indonesia, Natuna