Teknologi
Risiko Geopolitik pada Kabel Bawah Laut: Infrastruktur Kritis Digital yang Menjadi Arena Persaingan Kekuatan
Analisis Lowy Institute mengangkat isu kabel komunikasi bawah laut sebagai infrastruktur kritis global yang semakin rentan terhadap risiko geopolitik, termasuk sabotase, spionase, dan persaingan untuk kontrol. Insiden seperti kerusakan kabel di Laut Merah dan Laut Baltik telah menyoroti ketergantungan ekonomi dan keamanan global pada aset-aset ini. Sebagai negara kepulauan dengan ekonomi digital yang tumbuh pesat, Indonesia sangat bergantung pada kabel bawah laut untuk konektivitas internet internasional. Mayoritas kabel yang melayani Indonesia melewati choke points geopolitik sensitif seperti Selat Taiwan dan Laut China Selatan. Ini menempatkan keamanan digital Indonesia dalam posisi yang terpapar dengan dinamika persaingan kekuatan besar di kawasan tersebut. Analisis ini menunjukkan perlunya Indonesia mengembangkan strategi keamanan siber dan maritim yang terintegrasi, yang mencakup pemetaan kerentanan, diversifikasi rute kabel, dan peningkatan kemampuan pengawasan dan proteksi aset bawah laut. Dalam jangka panjang, isu ini dapat mendorong Indonesia untuk lebih aktif dalam forum global yang membahas tata kelola infrastruktur digital, dan mungkin berinvestasi dalam konsorsium kabel regional yang melibatkan mitra middle power untuk mengurangi ketergantungan pada rute yang dikendalikan oleh kekuatan besar yang bersaing.