Geo-Politik
Strategi China di Pasifik Selatan: Diplomasi Keamanan dan Tantangan bagi Pengaruh Tradisional Australia-Selandia Baru
Upaya China untuk memperluas pengaruhnya di Pasifik Selatan melalui pakta keamanan dengan Solomon Islands dan proposal perjanjian keamanan regional yang lebih luas telah menandai pergeseran geopolitik yang signifikan. Beijing tidak lagi hanya berfokus pada diplomasi ekonomi dan infrastruktur melalui Belt and Road Initiative (BRI), tetapi secara aktif menawarkan kerja sama keamanan, termasuk pelatihan polisi dan potensi kehadiran militer. Manuver ini secara langsung menantang pengaruh tradisional Australia dan Selandia Baru, yang memandang Pasifik sebagai ‘lingkaran terdekat’ (inner circle) keamanan mereka. Bagi Indonesia, yang berbatasan laut dengan Papua Nugini dan memiliki kepentingan di kawasan Melanesia, ekspansi China di Pasifik Selatan menambah kompleksitas lingkungan strategis langsung. Kehadiran militer China yang potensial di kawasan dapat mengubah kalkulus keamanan di laut lepas yang menghubungkan Pasifik dengan Asia Tenggara, serta mempengaruhi dinamika di Papua. Indonesia harus meningkatkan engagement-nya sendiri dengan negara-negara Kepulauan Pasifik, tidak hanya melalui ASEAN tetapi juga secara bilateral, untuk memastikan bahwa stabilitas kawasan tidak dikooptasi oleh persaingan kekuatan besar. Implikasinya adalah kebutuhan bagi Jakarta untuk merumuskan kebijakan Pasifik yang lebih proaktif dan komprehensif, yang menyeimbangkan hubungan dengan semua pihak sekaligus menjaga stabilitas di ‘halaman belakang’ timur Nusantara.
Entitas yang disebut
Organisasi: Belt and Road Initiative (BRI), ASEAN
Lokasi: China, Pasifik Selatan, Solomon Islands, Australia, Selandia Baru, Indonesia, Papua Nugini, Melanesia, Asia Tenggara, Papua, Jakarta, Nusantara