Kebijakan Pertahanan
Strategi Pertahanan Negara 25 Tahun ke Depan: Analisis Geopolitik
Badan Teknologi Pertahanan (Batekhan) Kementerian Pertahanan RI merilis penelitian komprehensif yang merumuskan strategi pertahanan Indonesia hingga 2045. Analisis geopolitik dalam penelitian ini mengidentifikasi transformasi lanskap global menuju multipolaritas, intensifikasi kompetisi strategis di Asia-Pasifik, serta dilema 'strategic autonomy' yang dihadapi Indonesia. Tantangan utama termasuk kerentanan fragmentasi internal dan ketergantungan teknologi. Penelitian memproyeksikan tiga skenario utama untuk 2045: optimis ('Pax Archipelago' dengan Indonesia sebagai kekuatan maritim utama), realistis ('Strategic Hedging' dengan manuver di antara kekuatan besar), dan pesimis ('Peripheral Fragmentation' dengan melemahnya kendali negara). Strategi pertahanan yang diusulkan mencakup pengembangan 'omnidirectional defense' untuk mengatasi ancaman dari berbagai arah, modernisasi kapabilitas strategis (termasuk penguatan deterrence), diplomasi pertahanan proaktif, dan pembangunan ketahanan geopolitik nasional. Rekomendasi kebijakan jangka panjang menekankan pentingnya pembaruan doktrin strategis, peningkatan kapabilitas intelijen strategis, pembangunan arsitektur keamanan regional yang inklusif, dan penguatan otonomi strategis melalui kemandirian teknologi pertahanan. Dokumen ini menjadi peta jalan strategis yang menegaskan bahwa pertahanan Indonesia harus dibangun tidak hanya atas kekuatan militer, tetapi juga pada ketahanan nasional yang holistik dan diplomasi yang cerdas.
Entitas yang disebut
Organisasi: Badan Teknologi Pertahanan (Batekhan) Kementerian Pertahanan RI
Lokasi: Indonesia, Asia-Pasifik