Geo-Politik

The QUAD dan ASEAN: Kompetisi Mekanisme Pengaman di Tengah Meningkatnya Ketegangan Laut Tiongkok Selatan

11 Mei 2026 Indo-Pasifik, ASEAN, Laut Tiongkok Selatan 9 views

Meningkatnya ketegangan di Laut Tiongkok Selatan telah memicu persaingan antara mekanisme keamanan yang dipimpin AS seperti QUAD dengan pendekatan konsensus ASEAN, menciptakan dilema strategis bagi Indonesia. Dinamika ini menguji relevansi ASEAN sebagai pengatur keamanan regional dan berpotensi mengarah pada polarisasi kawasan Indo-Pasifik. Masa depan stabilitas bergantung pada kemampuan ASEAN beradaptasi dan diplomasi luwes negara-negara seperti Indonesia dalam menjembatani kedua pendekatan.

The QUAD dan ASEAN: Kompetisi Mekanisme Pengaman di Tengah Meningkatnya Ketegangan Laut Tiongkok Selatan

Arsitektur keamanan di kawasan Indo-Pasifik tengah mengalami transformasi mendasar, didorong oleh meningkatnya kompetisi strategis antara kekuatan besar. Lanskap ini ditandai oleh munculnya mekanisme keamanan baru yang dipimpin oleh Amerika Serikat, seperti QUAD (Quadrilateral Security Dialogue), di samping lembaga regional mapan seperti ASEAN. Analisis mendalam dari Lowy Institute menggarisbawahi bahwa peningkatan aktivitas militer dan penegasan klaim maritim yang asertif di Laut Tiongkok Selatan oleh Tiongkok berfungsi sebagai katalis utama dalam dinamika ini. Klaim-klaim tersebut tidak hanya menantang hukum internasional, tetapi secara fundamental menguji prinsip sentral ASEAN, yaitu konsensus dan netralitas, serta menciptakan kebutuhan mendesak akan jaminan keamanan yang lebih tegas bagi negara-negara anggota.

Dinamika Kuadran Kekuatan: QUAD Sebagai Arsitektur Alternatif

Meskipun secara resmi dinyatakan sebagai forum untuk kerja sama praktis pada isu-isu seperti keamanan maritim, infrastruktur kritis, dan kesehatan global, keberadaan QUAD yang terdiri dari AS, Jepang, India, dan Australia secara intrinsik menciptakan sebuah arsitektur keamanan alternatif di kawasan. Eksistensinya merefleksikan ketidakpuasan tersirat terhadap kapasitas mekanisme berbasis ASEAN, seperti Forum Regional ASEAN (ARF) atau KTT Asia Timur (EAS), dalam merespons tindakan koersif dan asertif di laut. Peningkatan frekuensi latihan militer bersama, pembagian intelijen, dan kerja sama kapabilitas pertahanan di dalam kerangka QUAD mengkonsolidasikan sebuah poros kekuatan demokrasi yang berorientasi pada aturan (rules-based order). Dinamika ini tidak secara eksplisit bertujuan menandingi ASEAN, namun dalam praktiknya, ia menawarkan sebuah jalur diplomasi keamanan yang lebih gesit dan berorientasi pada hasil, yang berlawanan dengan model konsensus dan non-interferensi yang menjadi ciri ASEAN.

Dilema Strategis Indonesia dan Sentralitas ASEAN

Bagi Indonesia, yang memposisikan diri sebagai kekuatan sentral dan pemimpin natural di ASEAN, perkembangan ini menimbulkan dilema strategis yang kompleks. Di satu sisi, Indonesia memiliki kepentingan nasional langsung untuk menjaga kedaulatan dan hak berdaulat di wilayah Laut Tiongkok Selatan yang tumpang tindih, khususnya di sekitar Natuna. Keasertifan Tiongkok di perairan tersebut merupakan ancaman nyata terhadap stabilitas kawasan dan integritas teritorial Indonesia. Oleh karena itu, terdapat kebutuhan strategis akan suatu sistem penangkal (deterrence) dan jaminan keamanan yang kredibel, yang secara potensial dapat dipenuhi melalui kerja sama dengan anggota QUAD. Namun, di sisi lain, terlalu dekat secara militer dan diplomatik dengan kelompok yang dipersepsikan sebagai "aliansi anti-Tiongkok" dapat merusak netralitas ASEAN dan memicu reaksi balik dari Beijing yang dapat mengganggu hubungan ekonomi dan politik yang sudah mapan. Posisi Indonesia dengan demikian terjepit antara kebutuhan akan keamanan maritim yang efektif dan komitmen untuk mempertahankan sentralitas serta kesatuan ASEAN.

Implikasi jangka menengah dari ketegangan ini adalah pengujian terhadap relevansi ASEAN sebagai pengatur utama (primary manager) keamanan regional. Ketidakmampuan ASEAN untuk menghasilkan solusi konkret dan mengikat terhadap sengketa di Laut Tiongkok Selatan, atau setidaknya untuk secara kolektif menegakkan Code of Conduct yang efektif, berpotensi mengikis kredibilitasnya. Sementara itu, blok-blok seperti QUAD (dan potensi perluasannya seperti AUKUS) akan terus mengkonsolidasikan pengaruh, kapabilitas, dan norma keamanan mereka. Pergeseran ini dapat mengarah pada sebuah kawasan Indo-Pasifik yang semakin terpolarisasi, di mana negara-negara harus memilih antara dua arsitektur keamanan yang bersaing: satu yang berbasis pada aliansi dan pembagian beban (burden-sharing) yang eksklusif, dan satu lagi yang berbasis pada inklusivitas dan konsensus yang seringkali lamban.

Refleksi akhir menunjuk pada transformasi fundamental dalam tata kelola keamanan kawasan. Kompetisi antara QUAD dan ASEAN bukan semata persaingan kelembagaan, melainkan manifestasi dari perebutan pengaruh normatif dan strategis yang lebih luas di kawasan Indo-Pasifik. Masa depan stabilitas regional akan sangat bergantung pada kemampuan ASEAN untuk beradaptasi—mungkin dengan mengadopsi elemen kelincahan operasional tanpa meninggalkan prinsip inklusivitas—dan pada kemampuan negara anggota seperti Indonesia untuk menjalankan diplomasi yang luwes. Diplomasi tersebut harus mampu menjembatani kedua dunia: menarik manfaat dari kerja sama keamanan pragmatis untuk mengamankan kepentingan maritim nasional, sementara secara bersamaan memperkuat ASEAN dari dalam sebagai benteng terhadap polarisasi total yang dapat memecah belah kawasan menjadi blok-blok yang berseteru.

Entitas yang disebut

Organisasi: Lowy Institute, The Quad, ASEAN

Lokasi: Amerika Serikat, Jepang, India, Australia, Indo-Pasifik, Laut Tiongkok Selatan, Indonesia, Tiongkok