Perspektif Global & Regional

ASEAN dan Tantangan Kohesi di Tengah Perebutan Pengaruh AS-China di Laut China Selatan

23 Mei 2026 ASEAN, Laut China Selatan, China, AS 12 views

Persaingan strategis AS-China di Laut China Selatan telah menguji kohesi ASEAN, memunculkan fragmentasi internal yang melemahkan sentralitas organisasi tersebut. Indonesia, dengan kepentingan kedaulatan dan ekonomi yang kompleks, menghadapi dilema strategis namun memiliki peran kunci sebagai penyeimbang dan mediator. Stabilitas kawasan jangka panjang bergantung pada kemampuan ASEAN menjaga persatuan dan mendorong solusi berdasarkan hukum internasional, di tengah dinamika kekuatan besar yang terus berlangsung.

ASEAN dan Tantangan Kohesi di Tengah Perebutan Pengaruh AS-China di Laut China Selatan

Kawasan Laut China Selatan telah bertransformasi dari koridor niaga global menjadi arena kontestasi geopolitik terpenting abad ke-21. Dinamika di sana tidak lagi semata-mata mengenai klaim teritorial, melainkan merupakan pergesekan mendasar antara dua visi tatanan internasional. Di satu sisi, Amerika Serikat (AS) berupaya mempertahankan rezim berbasis aturan (rules-based order) yang berporos pada United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982. Di sisi lain, China mendorong pendekatan yang lebih cair, mengandalkan klaim historis dan kekuatan ekonomi untuk membentuk norma baru. Posisi ASEAN di tengah tarik-menarik dua kekuatan adidaya ini menjadi penentu utama stabilitas regional, sekaligus menguji kohesi dan kapasitas organisasi tersebut dalam mempertahankan sentralitasnya.

Fragmentasi Strategis: Dinamika Aktor dan Ujian terhadap Kohesi ASEAN

Strategi Beijing di Laut China Selatan, yang ditandai dengan militerisasi pulau buatan dan penegasan klaim melalui kehadiran maritim yang konsisten, merupakan bentuk salami-slicing yang bertujuan menciptakan fait accompli. Respon Washington bersifat multipolar: memperkuat pakta pertahanan bilateral (seperti EDCA dengan Filipina) dan menegakkan kebebasan navigasi melalui Freedom of Navigation Operations (FONOP). Polaritas eksternal ini memperbesar retakan internal di tubuh ASEAN, organisasi yang prinsip dasarnya adalah konsensus. Perbedaan persepsi ancaman dan kedekatan ekonomi menghasilkan spektrum respons yang lebar. Filipina dan Vietnam, dengan klaim langsung yang bersinggungan, cenderung mengambil pendekatan tegas dan bersandar pada AS. Sementara itu, Kamboja dan Laos, dengan pertimbangan ekonomi dan politik dalam negeri, lebih memilih jalur non-konfrontatif terhadap Beijing. Fragmentasi ini melemahkan kapasitas ASEAN untuk menghasilkan posisi kolektif yang kredibel, sehingga mengancam perannya sebagai poros (centrality) tata arsitektur keamanan kawasan.

Dilema Strategis Indonesia: Antara Kedaulatan, Ekonomi, dan Kepemimpinan Regional

Sebagai negara kepulauan terbesar dan kekuatan ekonomi utama di kawasan, Indonesia menempati posisi unik sekaligus penuh tantangan. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di sekitar Kepulauan Natuna mengalami tumpang tindih dengan klaim nine-dash line China, meskipun Jakarta secara konsisten menolak klaim tersebut. Hal ini menempatkan Indonesia pada dilema strategis yang paradigmatis. Di satu sisi, kemitraan ekonomi dengan China adalah mesin pertumbuhan yang sangat penting. Di sisi lain, prinsip kedaulatan dan keamanan maritimnya selaras dengan pendekatan berbasis hukum yang didorong AS. Posisi ganda ini menjadikan Indonesia sebagai potential balancer dan mediator alami. Namun, efektivitas peran ini sangat bergantung pada kemampuan Jakarta untuk menjaga kredibilitas dan independensi kebijakan luar negerinya, sambil secara aktif mendorong dialog dan kepatuhan terhadap UNCLOS di forum-forum regional.

Implikasi jangka panjang dari dinamika ini terhadap keseimbangan kekuatan (balance of power) di Asia Tenggara sangat signifikan. Melemahnya kohesi ASEAN berpotensi mendorong negara-negara anggota ke dalam orbit pengaruh kekuatan besar yang saling bersaing, sehingga mengikis multilateralisme dan mempercepat proses bipolarisasi kawasan. Hal ini pada gilirannya dapat meningkatkan risiko eskalasi, baik yang bersifat insidental maupun terencana. Bagi Indonesia, konsekuensinya adalah semakin kompleksnya lingkungan keamanan, menuntut peningkatan kapasitas pertahanan maritim dan diplomasi yang lebih cerdas. Masa depan stabilitas di Laut China Selatan tidak hanya ditentukan oleh interaksi AS-China, tetapi juga—dan mungkin lebih penting—oleh kemampuan kolektif ASEAN, dengan kepemimpinan negara-negara seperti Indonesia, untuk menjaga unitas dan mendorong solusi damai berbasis konsensus dan hukum internasional.

Entitas yang disebut

Organisasi: ASEAN

Lokasi: Laut China Selatan, Amerika Serikat, China, Filipina, Indonesia, Natuna