Perspektif Global & Regional

ASEAN dan Tantangan Netralitas Aktif di Tenga Perebutan Pengaruh AS-China

08 Juni 2026 Asia Tenggara, Indo-Pasifik 16 views

ASEAN menghadapi ujian berat dalam mempertahankan netralitas dan otonomi strategisnya di tengah persaingan AS-China yang kian intensif di kawasan Indo-Pasifik. Tantangan internal berupa perbedaan kepentingan negara anggota serta tekanan eksternal dari kedua kekuatan adidaya berisiko memecah kesatuan kawasan. Kepemimpinan Indonesia sangat krusial untuk mengubah konsep diplomasi menjadi aksi kolektif konkret guna mencegah fragmentasi ASEAN dan melindungi stabilitas serta kepentingan nasionalnya.

ASEAN dan Tantangan Netralitas Aktif di Tenga Perebutan Pengaruh AS-China

Dinamika persaingan strategis antara Amerika Serikat dan China di kawasan Indo-Pasifik telah menempatkan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) pada posisi yang sangat dilematis. Sebagaimana dianalisis oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS), ancaman utama yang dihadapi organisasi regional ini adalah terkikisnya kapasitas untuk mempertahankan posisi netralitas dan otonomi strategis. Kompleksitas tantangan ini tidak hanya bersifat eksternal, berupa tekanan langsung dari kedua negara adidaya, tetapi juga bersifat internal, menyangkut kohesi dan kesatuan pandangan di antara sepuluh negara anggota. Ketegangan di Laut China Selatan, ekspansi postur militer, dan perang teknologi menciptakan lingkungan strategis yang memaksa negara-negara ASEAN untuk terus-menerus melakukan kalkulasi antara kepentingan ekonomi yang sangat terintegrasi dengan China dan kebutuhan keamanan yang seringkali mengarah pada kerjasama dengan Amerika Serikat dan sekutu-sekutu tradisionalnya di kawasan. Dalam konteks ini, konsep ‘hedging’ atau lindung nilai menjadi strategi utama, namun semakin sulit untuk dipertahankan seiring dengan polarisasi yang meningkat.

Dinamika Aktor dan Fragmentasi Pengaruh di Kawasan

Peta kekuatan di kawasan Indo-Pasifik ditandai oleh manuver dua kutub kekuatan dengan pendekatan yang berbeda namun sama-sama berpengaruh. China memanfaatkan keunggulan geografis proksimitas dan kekuatan ekonomi melalui inisiatif seperti Belt and Road Initiative (BRI) untuk memperdalam ketergantungan ekonomi dan infrastruktur negara-negara ASEAN. Di sisi lain, Amerika Serikat dan sekutu-sekutu intinya—terutama Jepang, Australia, dan melalui kerangka AUKUS yang juga melibatkan Inggris—secara konsisten memperkuat kemitraan pertahanan dan keamanan, sembari mempromosikan narasi Indo-Pasifik yang Bebas dan Terbuka (Free and Open Indo-Pacific/FOIP). Kedua pendekatan ini menciptakan medan tarik-menarik yang kuat, berpotensi memecah kesatuan ASEAN berdasarkan perbedaan tingkat kedekatan dan kepentingan masing-masing negara anggota dengan Washington atau Beijing. Mekanisme kawasan yang dibangun ASEAN, seperti East Asia Summit (EAS) dan ASEAN Regional Forum (ARF), berisiko kehilangan relevansinya jika tidak mampu secara efektif menjembatani perpecahan dan mengartikulasikan kepentingan kolektif yang independen.

Ujian Berat bagi Kepemimpinan dan Relevansi Indonesia di ASEAN

Implikasi dari dinamika ini bagi Indonesia sangatlah strategis dan mendalam. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar dan pengaruh geopolitik yang signifikan di ASEAN, Indonesia memikul tanggung jawab penting untuk menjaga kesatuan dan efektivitas organisasi. Diplomasi Poros Maritim Dunia yang dicanangkan serta peran kunci dalam merumuskan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) merupakan aset politik yang berharga. Namun, aset-aset konseptual ini harus segera ditransformasikan menjadi aksi kebijakan kolektif yang konkret dan dapat diukur. Indonesia dituntut untuk tampil bukan hanya sebagai pemikir, tetapi juga sebagai fasilitator aktif yang mampu menjembatani perbedaan pandangan di internal ASEAN—misalnya antara negara-negara yang lebih vokal di Laut China Selatan dengan yang lebih berhati-hati. Lebih jauh, Indonesia perlu mengartikulasikan posisi netralitas aktif yang jelas dan tegas terhadap kekuatan eksternal, sebuah posisi yang menolak dikotomi pilihan (zero-sum game) namun tetap menegakkan prinsip-prinsip kedaulatan dan hukum internasional, terutama di laut.

Konsekuensi kegagalan ASEAN untuk mempertahankan otonomi strategisnya sangatlah serius bagi kawasan dan bagi Indonesia secara khusus. Skenario terburuk adalah terfragmentasinya Asia Tenggara menjadi blok-blok pengaruh yang terikat secara longgar dengan Washington atau Beijing. Fragmentasi semacam ini akan merusak stabilitas regional, memperuncing sengketa yang ada, dan pada akhirnya membatasi ruang gerak strategis setiap negara anggota, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, penguatan kapasitas kolektif di bidang maritim, ekonomi, dan ketahanan menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar. Dalam jangka panjang, daya tahan ASEAN akan diuji oleh kemampuannya untuk berinovasi, mungkin dengan memperdalam integrasi keamanan dan ekonomi internal, sehingga mengurangi kerentanan terhadap tekanan eksternal. Masa depan kawasan sangat bergantung pada apakah ASEAN dapat bergerak dari sekadar menjadi arena persaingan (theatre of competition) menjadi pemain utama (principal player) yang mampu mengatur tata kelola kawasan berdasarkan kepentingan dan nilai-nilai bersama.

Entitas yang disebut

Organisasi: Center for Strategic and International Studies, CSIS, AS, China, Jepang, Australia, Inggris, AUKUS, East Asia Summit, EAS, ASEAN Regional Forum, ARF

Lokasi: ASEAN, Indo-Pasifik, Laut China Selatan, Indonesia, AS, China, Jepang, Australia, Inggris