Lingkungan

Blue Economy dan Pertarungan Pengaruh di Pasifik: Respon Indonesia terhadap Meningkatnya Kehadiran Asing

20 Juli 2026 Kawasan Pasifik, Indonesia Timur 8 views
Blue Economy dan Pertarungan Pengaruh di Pasifik: Respon Indonesia terhadap Meningkatnya Kehadiran Asing
Kawasan Pasifik, yang sering diabaikan, kini menjadi arena persaingan pengaruh antara Cina, Amerika Serikat, Australia, dan kekuatan tradisional lainnya. Cina, melalui pendekatan ekonomi dan infrastruktur di bawah payung Belt and Road Initiative, telah meningkatkan engagement-nya secara signifikan. AS dan sekutunya merespons dengan meningkatkan bantuan pembangunan dan keamanan, seperti pakta AUKUS dan kunjungan tingkat tinggi. Persaingan ini berpusat pada isu-isu kunci seperti blue economy, keamanan maritim, dan adaptasi perubahan iklim yang sangat mengancam negara-negara kepulauan kecil. Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar dan tetangga terdekat kawasan Pasifik (berbatasan langsung dengan Papua Nugini), memiliki kepentingan strategis untuk menjaga stabilitas di perbatasan timurnya. Jakarta telah meluncurkan inisiatif 'Indonesia-Pacific Development Partnership' yang fokus pada capacity building, penanganan perubahan iklim, dan pengelolaan sumber daya laut. Analisis menunjukkan, pendekatan Indonesia berbeda dengan logika persaingan kekuatan besar; lebih menekankan kerja sama teknis dan pembangunan berkelanjutan berdasarkan prinsip kemitraan setara. Implikasi jangka pendek adalah perlunya konsistensi komitmen dan alokasi sumber daya untuk inisiatif ini. Jangka panjang, Indonesia dapat memposisikan diri sebagai jembatan dan suara yang dipercaya bagi negara-negara Pasifik dalam forum global seperti PBB dan forum iklim, sekaligus mengamankan kepentingan ekonominya di zona perikanan dan potensi energi biru di wilayah perbatasan.

Entitas yang disebut

Organisasi: AUKUS, PBB

Lokasi: Pasifik, Cina, Amerika Serikat, Australia, Indonesia, Papua Nugini, Jakarta