Kebijakan Pertahanan
Dari ALKI ke Ruang Strategis: Rekonfigurasi Poros Maritim Global dan Dilema Kedaulatan Indonesia
Analisis mendalam dari sumber militer ini berargumen bahwa risiko konflik di Pasifik Barat bergerak melalui spektrum eskalasi, dari zona abu-abu hingga potensi konflik terbuka, dengan Taiwan dan Laut Cina Selatan sebagai episentrum. Artikel ini menekankan bahwa pertanyaan kritis bagi Indonesia bukanlah memprediksi tanggal perang, melainkan mempersiapkan diri agar ruang nasionalnya—khususnya Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), Natuna, Selat Lombok, dan Selat Makassar—tidak berubah menjadi ruang operasi atau alat tekanan kekuatan besar yang bersaing. Perang di Timur Tengah menciptakan celah strategis bagi Tiongkok karena mengalihkan sebagian perhatian dan sumber daya AS, namun ini tidak secara otomatis memicu invasi ke Taiwan karena berbagai faktor penahan, termasuk risiko operasi amfibi dan ketidakpastian intervensi sekutu AS.
Dinamika aktor menunjukkan AS dan Tiongkok sedang menyusun garis operasi yang berbeda. AS berbasis pada akses sekutu dan kemampuan rudal jarak jauh, sementara Tiongkok fokus pada kedalaman maritim, pulau buatan, dan milisi maritim. Dalam kalkulasi ini, jika terjadi konflik, Tiongkok kemungkinan tidak ingin menutup Selat Malaka, tetapi justru akan mendorong negara pantainya tetap netral dan mencari jalur cadangan melalui ALKI Indonesia. Ini secara langsung menaikkan kelas jalur laut Indonesia dari jalur lintas damai menjadi aset strategis global yang diperebutkan dalam kalkulasi logistik perang.
Implikasi bagi Indonesia bersifat operasional dan strategis. Pertama, kesiapsiagaan harus difokuskan pada skenario tekanan non-kinetik seperti gangguan zona abu-abu, karantina maritim, atau blokade, yang lebih mungkin menyentuh Indonesia lebih awal. Kedua, Indonesia perlu mengembangkan dan melatih kemampuan kontrol akses, penyangkalan laut defensif, kesadaran domain bawah laut, dan prosedur de-eskalasi lintas matra secara rutin. Ketiga, posisi Indonesia menuntut kebijakan luar negeri dan pertahanan yang secara aktif melindungi otonomi strategisnya, memastikan kedaulatan atas ALKI dan ruang nasional lainnya tidak tergadaikan dalam persaingan kekuatan besar, sekaligus menjaga stabilitas sebagai prasyarat bagi keamanan ekonomi nasional.
Entitas yang disebut
Organisasi: Tiongkok, AS
Lokasi: Pasifik Barat, Taiwan, Laut Cina Selatan, Indonesia, Natuna, Selat Lombok, Selat Makassar, Timur Tengah, Selat Malaka