Perspektif Global & Regional

Dilema Indonesia dalam BRICS+ yang Meluas: Antara Solidaritas Global Selatan dan Kepentingan Nasional Strategis

07 Juli 2026 Indonesia, Global 8 views

Ekspansi BRICS+ menempatkan Indonesia pada persimpangan strategis antara memanfaatkan platform multilateralisme alternatif untuk mendorong reformasi tatanan global dan menjaga keseimbangan hubungan dengan mitra tradisional di Barat. Keanggotaan dalam aliansi yang heterogen ini menjanjikan manfaat ekonomi namun mengandung risiko terpolarisasi oleh agenda geopolitik kekuatan inti. Keberhasilan Indonesia akan bergantung pada kemampuannya menjadi jembatan antar-kelompok dan mengkonkretkan kerja sama menjadi manfaat nyata, sambil tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas-aktif.

Dilema Indonesia dalam BRICS+ yang Meluas: Antara Solidaritas Global Selatan dan Kepentingan Nasional Strategis

Ekspansi BRICS+ yang memasukkan negara-negara dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin merepresentasikan pergeseran signifikan dalam arsitektur geopolitik global. Pergeseran ini mengkristalkan aspirasi untuk menciptakan tatanan dunia multipolar yang secara definitif menantang hegemoni establishment politik-ekonomi Barat yang telah lama mapan. Dalam konteks ini, Indonesia sebagai kekuatan ekonomi dan demografi utama di Asia Tenggara, serta sebagai juru bicara penting bagi Global Selatan, menghadapi kalkulus strategis yang kompleks. Keanggotaan potensial dalam aliansi yang meluas ini bukan sekadar pilihan diplomatik, melainkan keputusan geopolitik yang akan membentuk ulang orientasi luar negeri Jakarta dan mempengaruhi perhitungan keseimbangan kekuatan di kawasan Indo-Pasifik.

Dinamika Aktor dan Heterogenitas Kepentingan dalam BRICS+

Komposisi BRICS+ yang kini mencakup aktor-aktor seperti Iran, Arab Saudi, dan Argentina telah mentransformasikan dinamika internal kelompok. Heterogenitas ini adalah kekuatan sekaligus kerapuhan. Di satu sisi, ia memperluas jangkauan dan legitimasi kelompok sebagai representasi alternatif multilateralisme. Di sisi lain, ia memunculkan risiko fragmentasi karena masing-masing anggota membawa agenda nasional dan keamanan yang spesifik, serta terkadang saling bersaing. Agenda geopolitik China yang mendorong perluasan pengaruh melalui skema seperti Belt and Road Initiative (BRI) dan dorongan Rusia untuk membangun koalisi anti-Barat, berpotensi mendominasi narasi kolektif. Bagi Indonesia, situasi ini menciptakan dilema mendasar: bagaimana memanfaatkan platform BRICS+ untuk mendorong reformasi tata kelola global—khususnya dalam lembaga keuangan internasional—tanpa terjebak dalam polarisasi geopolitik yang dipimpin oleh kekuatan besar non-Barat tersebut.

Kepentingan Strategis Indonesia dan Pertimbangan Keseimbangan Kekuatan

Keputusan strategis Indonesia harus berakar pada kalkulasi kepentingan nasional yang jernih. Daya tarik utama keanggotaan terletak pada janji akses ke pembiayaan pembangunan alternatif (melalui New Development Bank), diversifikasi pasar ekspor, dan peningkatan bargaining power dalam negosiasi internasional. Namun, keuntungan-keuntungan potensial ini harus ditimbang dengan biaya geopolitik yang mungkin timbul. Indonesia secara tradisional menjalankan politik luar negeri bebas-aktif yang berusaha menjaga hubungan konstruktif dengan semua kekuatan besar. Keikutsertaan yang terlalu dalam dalam BRICS+, yang semakin dipersepsikan sebagai blok tandingan terhadap G7, berisiko mengikis kepercayaan dan merenggangkan hubungan dengan mitra strategis tradisional seperti Amerika Serikat, Jepang, dan sekutu-sekutunya di kawasan. Dalam konteks ketegangan Sino-Amerika di Laut China Selatan dan Selat Taiwan, posisi Indonesia menjadi semakin sensitif. Pilihan menjadi anggota pasif hanya akan membuat Indonesia menjadi penonton, sementara pilihan untuk aktif membentuk agenda memerlukan sumber daya diplomatik dan visi strategis yang jelas untuk memastikan kepentingan maritim, kedaulatan, dan pembangunan ekonominya tercermin.

Implikasi jangka panjang dari pilihan Indonesia ini akan berdampak luas pada stabilitas kawasan ASEAN dan arsitektur keamanan Indo-Pasifik. Efektivitas Indonesia di panggung global baru ini tidak akan diukur hanya dari keanggotaan simbolis, melainkan dari kemampuannya menjalankan peran sebagai bridge-builder atau penghubung. Kemampuan untuk menjembatani BRICS+ dengan kelompok-kelompok lain seperti ASEAN dan G20, serta mengkonversi janji kerja sama menjadi proyek infrastruktur, transfer teknologi, dan kerja sama keamanan maritim yang nyata, merupakan tolok ukur keberhasilan. Kegagalan untuk melakukannya dapat meminggirkan peran Indonesia, sementara keberhasilan dapat memperkuat posisinya sebagai kekuatan tengah (middle power) yang indispensable dalam tata kelola global yang semakin terfragmentasi.

Pada akhirnya, dilema Indonesia dalam BRICS+ yang meluas merupakan cerminan mikro dari transformasi besar tatanan internasional. Kelompok ini menawarkan jalan untuk mempercepat reformasi sistemik yang selama ini diadvokasi oleh Global Selatan, namun sekaligus membawa risiko terjerumus ke dalam logika blok politik yang baru. Keputusan akhir Jakarta harus didasarkan pada kemampuan untuk secara aktif mengarahkan narasi dan agenda aliansi ini, menahannya agar tetap fokus pada pembangunan dan tata keloba inklusif, bukan pada konfrontasi geopolitik. Hanya dengan pendekatan yang percaya diri, berbasis kepentingan, dan dengan kesadaran penuh terhadap pergeseran balance of power global, Indonesia dapat mengubah dilema ini menjadi peluang strategis untuk memperkuat kedaulatan dan kemakmurannya di era multipolar.

Entitas yang disebut

Organisasi: BRICS+, ASEAN, G20

Lokasi: Indonesia, Asia, Afrika, Amerika Latin, China, Rusia, Iran, Arab Saudi, Argentina, AS, Jepang