Perspektif Global & Regional

Dinamika Aliansi AUKUS dan Respons ASEAN: Tantangan bagi Prinsip Sentralitas ASEAN dan Non-Alignment

02 Juni 2026 ASEAN, Indo-Pasifik 16 views

Kemitraan AUKUS merepresentasikan pergeseran paradigma ke arah minilateralisme eksklusif di Indo-Pasifik yang mengancam dua pilar utama politik luar negeri ASEAN: sentralitas dan non-alignment. Fragmentasi respon di antara negara anggota mengindikasikan tantangan serius bagi konsensus dan kohesi kawasan, sementara Indonesia menghadapi dilema antara menjaga keseimbangan kekuatan dan mempertahankan prinsip-prinsip non-proliferasi serta kepemimpinan ASEAN.

Dinamika Aliansi AUKUS dan Respons ASEAN: Tantangan bagi Prinsip Sentralitas ASEAN dan Non-Alignment

Kemitraan AUKUS antara Australia, Amerika Serikat, dan Inggris mewakili sebuah titik balik dalam arsitektur keamanan Indo-Pasifik. Lebih dari sekadar persetujuan transfer teknologi, aliansi minilateral berbasis kemampuan ini adalah instrumen strategis untuk membangun arsitektur deterrence multi-domain yang ditujukan secara eksplisit untuk mengimbangi dan menghambat kemampuan proyeksi kekuatan maritim Tiongkok. Kelahiran AUKUS dalam konteks kompetisi strategis AS-Tiongkok yang makin intens mencerminkan pergeseran paradigma dari diplomasi multilateral inklusif menuju pengelompokan eksklusif berbasis ancaman dan teknologi tinggi. Pergeseran ini secara fundamental mengubah lanskap geopolitik regional, menempatkan kekuatan-kekuatan menengah dan organisasi seperti ASEAN pada posisi yang reaktif terhadap fakta strategis yang ditetapkan oleh aktor-aktor besar.

Fragmentasi Respon dan Ancaman terhadap Konsensus ASEAN

Respons negara-negara anggota ASEAN terhadap AUKUS memperlihatkan sebuah fragmentasi awal yang mengancam fondasi diplomasi kawasan, yakni konsensus dan solidaritas. Spektrum sikap terpolarisasi di antara anggota merefleksikan perbedaan ancaman yang dirasakan dan kedekatan aliansi historis. Filipina, dengan pertikaian langsung di Laut China Selatan dan aliansi Mutual Defense Treaty dengan AS, cenderung memandang AUKUS sebagai penyeimbang (counterweight) yang diperlukan untuk stabilitas. Sebaliknya, negara-negara pendiri yang berpegang pada tradisi politik luar negeri yang hati-hati dan netral, seperti Indonesia dan Malaysia, menyuarakan kekhawatiran mendalam mengenai dua isu krusial: potensi eskalasi ketegangan dan perlombaan senjata, serta risiko jangka panjang proliferasi teknologi sensitif, bahkan untuk keperluan damai sekalipun. Fragmentasi respons ini mengindikasikan kesulitan ASEAN untuk menghasilkan posisi kolektif yang koheren, sehingga memperlemah daya tawar dan kredibilitasnya di panggung internasional.

Erosi Sentralitas ASEAN dan Tekanan Terhadap Prinsip Non-Alignment

Implikasi strategis paling mendalam dari AUKUS adalah tantangan strukturalnya terhadap dua pilar politik luar negeri kawasan: sentralitas ASEAN dan non-alignment. Prinsip sentralitas mengandaikan ASEAN sebagai kekuatan penggerak utama dan platform inklusif untuk arsitektur keamanan regional. Namun, pembentukan aliansi eksklusif berteknologi tinggi di luar struktur ASEAN—yang dirancang, didanai, dan dioperasikan oleh kekuatan eksternal—secara efektif meminggirkan peran tersebut. ASEAN berisiko direduksi menjadi objek yang hanya bereaksi, bukan subjek yang menentukan agenda keamanan di Indo-Pasifik. Lebih lanjut, AUKUS memperkuat tekanan geopolitik untuk 'memilih sisi' (forced alignment) dalam persaingan AS-Tiongkok. Dinamika ini secara serius mengikis ruang manuver strategis yang dimungkinkan oleh politik non-alignment atau bebas-aktif, yang selama ini menjadi instrumen vital bagi negara-negara anggota untuk menjaga otonomi dan menghindari jebakan konflik antara kekuatan besar.

Bagi Indonesia, sebagai kekuatan utama dan advokat kuat Zona Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (SEANWFZ), dinamika yang dipicu AUKUS menghadirkan dilema strategis yang kompleks. Di satu sisi, Indonesia menyadari kebutuhan realistis untuk menjaga keseimbangan kekuatan (balance of power) dan stabilitas di kawasan maritim yang vital bagi kepentingan ekonominya. Di sisi lain, komitmen pada kepemimpinan ASEAN, prinsip non-alignment, dan norma non-proliferasi nuklir yang ketat memaksa Jakarta untuk bersikap kritis terhadap aliansi yang berpotensi memicu perlombaan senjata dan menggerus relevansi platform diplomasi regional. Posisi Indonesia akan sangat krusial dalam membentuk respons kolektif ASEAN dan memastikan bahwa peningkatan kompetisi kekuatan besar tidak mengorbankan stabilitas, kohesi, dan otonomi strategis kawasan Asia Tenggara dalam jangka panjang.

Entitas yang disebut

Organisasi: AUKUS, ASEAN

Lokasi: Australia, Inggris, Amerika Serikat, China, Indo-Pasifik, Filipina, Indonesia, Malaysia