Perspektif Global & Regional

Dinamika Keamanan Pasifik: Perjanjian Keamanan China-Solomon Islands dan Implikasinya bagi ASEAN dan Indonesia

01 Juli 2026 Pasifik, Solomon Islands, China 13 views

Perjanjian keamanan China-Solomon Islands merepresentasikan pergeseran geopolitik besar dengan mengkonkretkan pengaruh keamanan Beijing di jantung Pasifik, mengganggu keseimbangan kekuatan tradisional. Perkembangan ini menimbulkan implikasi keamanan langsung bagi Indonesia karena kedekatan geografis dan menguji kapasitas diplomasi negara serta ASEAN dalam mempertahankan pengaruh di kawasan Pasifik yang semakin kompetitif.

Dinamika Keamanan Pasifik: Perjanjian Keamanan China-Solomon Islands dan Implikasinya bagi ASEAN dan Indonesia

Landskap geopolitik kawasan Pasifik tengah mengalami pergeseran struktural yang signifikan. Konfirmasi peningkatan dan perluasan perjanjian keamanan bilateral antara China dan Solomon Islands pada akhir 2025 bukan sekadar perkembangan hubungan luar negeri biasa, melainkan suatu penanda masuknya aktor kekuatan besar ekstra-regional secara permanen ke dalam jantung teater Pasifik Selatan. Perjanjian yang mengizinkan kehadiran personel, kapal, serta akses logistik China tersebut secara efektif menancapkan footprint keamanan dan kepolisian Beijing yang dalam, mengubah secara fundamental kalkulus strategis di wilayah yang secara historis merupakan lingkup pengaruh tradisional Australia, Selandia Baru, dan sekutu Amerika Serikat. Perluasan pengaruh keamanan ini menempatkan kemampuan operasional China dalam jarak yang sangat dekat dengan perairan teritorial Australia dan jalur komunikasi maritim vital yang menjadi urat nadi perdagangan global, sehingga menimbulkan konsekuensi strategis yang bersifat multidimensional.

Pergeseran Keseimbangan Kekuatan dan Tantangan bagi Kemitraan Tradisional

Dinamika yang dipicu oleh perjanjian China-Solomon Islands ini merepresentasikan ujian nyata terhadap tatanan keamanan regional yang ada. Kawasan Pasifik telah lama dikarakteristikkan oleh hegemoni lunak Canberra dan Wellington, yang didukung oleh kerangka aliansi seperti ANZUS dan hubungan kedekatan sejarah serta budaya. Kehadiran China sebagai pemain keamanan aktif—melampaui peran ekonomi dan pembangunan infrastruktur yang selama ini digeluti—secara langsung mengikis monopoli pengaruh kekuatan-kekuatan tradisional tersebut. Perjanjian ini berpotensi menciptakan efek domino, di mana negara-negara kepulauan Pasifik lainnya mungkin mempertimbangkan kemitraan keamanan alternatif dengan Beijing, sehingga semakin mengaburkan garis demarkasi zona pengaruh. Situasi ini berpotensi memicu dinamika keamanan kompetitif yang dapat mengarah pada militarisasi kawasan, suatu skenario yang bertentangan dengan kepentingan kolektif untuk menjaga Pasifik sebagai zona damai dan bebas konflik.

Implikasi Strategis Langsung bagi Indonesia dan Posisioning ASEAN

Bagi Indonesia, implikasi dari perkembangan ini bersifat langsung dan konkret. Sebagai negara dengan perbatasan darat langsung dengan Papua Nugini—sebuah negara Pasifik yang signifikan—setiap perubahan dalam arsitektur keamanan di wilayah tetangga timur tersebut akan berefek pada stabilitas perbatasan Indonesia. Kehadiran kekuatan ekstra-regional yang kuat seperti China di dekat wilayah kedaulatan Indonesia memerlukan kewaspadaan dan penajaman analisis intelijen yang lebih tinggi, terutama dalam mengantisipasi potensi spillover atau penggunaan wilayah tersebut untuk kepentingan strategis yang dapat mempengaruhi kedaulatan dan integritas teritorial Indonesia. Lebih dari itu, perkembangan ini menguji kapasitas diplomasi Indonesia dalam mempertahankan kedekatan dan pengaruhnya di Melanesia dan kawasan Pasifik secara lebih luas, yang merupakan bagian integral dari konsep Poros Maritim Dunia dan visi Indo-Pasifik Indonesia yang inklusif.

Pada tingkat regional, ASEAN sebagai sebuah blok dihadapkan pada tantangan kohesi dan relevansi. Perluasan pengaruh China di Solomon Islands dan kemungkinan di negara Pasifik lainnya terjadi tepat di tepi sudut timur konsep Indo-Pasifik, suatu wilayah yang semakin menjadi ajang tarik-menarik kekuatan besar. Kemampuan ASEAN untuk bertindak sebagai kekuatan penengah (central force) dan menjaga stabilitas di kawasan yang lebih luas akan diuji, khususnya jika ketegangan antara kekuatan besar meningkat di wilayah tersebut. ASEAN perlu secara proaktif memperdalam kemitraan strategis dengan negara-negara forum seperti Pacific Islands Forum (PIF), bukan hanya melalui lensa ekonomi, tetapi juga dialog keamanan dan pembangunan kapasitas maritim, untuk memastikan bahwa suara dan kepentingan kolektif kawasan Asia Tenggara dan Pasifik tetap terdalam dalam mengarahkan tatanan regional.

Secara jangka panjang, konsolidasi pengaruh keamanan China di Solomon Islands dapat menjadi preseden bagi pola engagement yang lebih assertif di seluruh kawasan Indo-Pasifik. Perkembangan ini menandai tahap di mana kompetisi strategis antara China dan blok negara-negara yang dipimpin AS tidak lagi terbatas pada Laut China Selatan atau Selat Taiwan, tetapi telah meluas ke wilayah laut biru Pasifik yang sebelumnya dianggap sebagai 'danau belakang' sekutu-sekutu Barat. Bagi Indonesia, situasi ini menegaskan perlunya postur pertahanan dan diplomasi yang lebih dinamis, yang tidak hanya reaktif tetapi mampu merumuskan strategi proyeksi dan engagement yang jelas untuk menjaga keseimbangan (balance) dan mencegah dominasi satu kekuatan tunggal di kawasan perbatasan dan kepentingan maritimnya. Pada akhirnya, dinamika di Solomon Islands adalah cermin miniatur dari pertarungan yang lebih besar untuk mendefinisikan tatanan regional abad ke-21, di mana negara-negara menengah seperti Indonesia harus berjalan dengan hati-hati namun penuh tekad untuk menjamin kepentingan kedaulatan dan stabilitas kawasannya.

Entitas yang disebut

Organisasi: ASEAN

Lokasi: China, Solomon Islands, Pasifik, Australia, Selandia Baru, AS, Indonesia, Papua Nugini