Geo-Ekonomi

Kebangkitan BRICS+ dan Transformasi Tata Kelola Ekonomi Global: Peluang dan Tantangan bagi Indonesia

18 Juli 2026 Global, Indonesia 10 views

Konsolidasi dan ekspansi BRICS+ menandai fase baru perjuangan multipolaritas dan penciptaan alternatif tata kelola ekonomi global oleh Global South. Proyek de-dolarisasi yang digaungkan merupakan strategi geopolitik yang mencerminkan pergeseran keseimbangan kekuatan global. Bagi Indonesia, dinamika ini menawarkan peluang diversifikasi dan peningkatan posisi tawar, namun juga tantangan diplomasi yang kompleks untuk menjaga hubungan seimbang di tengah fragmentasi sistem global yang sedang berlangsung.

Kebangkitan BRICS+ dan Transformasi Tata Kelola Ekonomi Global: Peluang dan Tantangan bagi Indonesia

Arsitektur ekonomi politik global sedang mengalami transformasi struktural yang signifikan dengan konsolidasi dan ekspansi BRICS+. Ekspansi dengan masuknya Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Iran, dan Ethiopia tidak lagi hanya bermakna kuantitatif, melainkan merupakan sebuah konsolidasi geopolitik Global South yang memiliki massa kritis untuk secara serius mengkritik dan menawarkan alternatif terhadap tata kelola ekonomi global yang selama ini didominasi negara-negara Global North. Perkembangan ini menandai fase konkret dalam perjuangan untuk mewujudkan multipolaritas, di mana pusat-pusat kekuatan ekonomi baru mulai merumuskan sistem aturan dan institusi mereka sendiri, secara langsung menantang hegemoni tatanan yang telah berdiri puluhan tahun.

De-Dolarisasi sebagai Instrumen Pergeseran Keseimbangan Kekuatan Global

Proyek de-dolarisasi yang digaungkan oleh BRICS+ harus dipahami sebagai strategi geopolitik jangka panjang, bukan sekadar kebijakan moneter teknis. Upaya pengembangan mata uang bersama dan sistem pembayaran alternatif adalah instrumen sistematis untuk mengikis privilege dolar AS, yang merupakan salah satu pilar utama proyeksi kekuatan global Amerika Serikat. Fragmentasi potensial dari sistem moneter internasional ini mengarah pada pembentukan blok-blok keuangan yang saling bersaing, sebuah cerminan dari penolakan yang semakin tegas terhadap unilateralisme dan indikator nyata dari pergeseran balance of power. Implikasinya melampaui ranah ekonomi, merambah ke domain politik-keamanan global, mengingat kontrol atas sistem keuangan adalah salah satu instrumen kekuasaan yang paling efektif dalam diplomasi abad ke-21.

Navigasi Strategis Indonesia di Tengah Fragmentasi Sistem Global

Sebagai kekuatan menengah utama dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia mendapati posisi yang kompleks sekaligus strategis dalam dinamika ini. Kebangkitan BRICS+ menawarkan peluang konkret bagi Jakarta untuk mendiversifikasi kemitraan ekonomi, mengurangi ketergantungan berlebihan pada pasar tradisional, dan memperkuat posisi tawar dalam forum-forum multilateral. Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk mendorong agenda reformasi sistem keuangan internasional agar lebih adil dan inklusif, selaras dengan narasi diplomasi Indonesia yang konsisten membela kepentingan negara berkembang. Namun, peluang ini datang beriringan dengan beban tantangan diplomasi yang signifikan.

Tantangan utama terletak pada heterogenitas dan rivalitas internal BRICS+ itu sendiri. Pertentangan geopolitik tradisional seperti antara Arab Saudi dan Iran, serta perbedaan mendasar dalam sistem politik dan ekonomi antaranggota, menciptakan kohesi internal yang rapuh. Hal ini berpotensi mengurangi efektivitas blok sebagai mitra yang koheren dan dapat diandalkan secara politik dalam jangka panjang. Di sisi lain, keterlibatan Indonesia yang terlalu dalam dan tanpa kalkulasi yang matang berisiko menciptakan friksi dengan kemitraan strategis dan ekonomi yang telah lama terjalin dengan Amerika Serikat dan sekutu-sekitunya di Barat. Oleh karena itu, Jakarta dituntut untuk menjalankan tightrope diplomacy yang lincah dan presisi, memastikan setiap langkahnya tidak dipersepsikan sebagai pergeseran aliansi yang radikal, melainkan sebagai diversifikasi kepentingan nasional yang rasional.

Implikasi jangka panjang bagi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara adalah potensi terciptanya lingkungan strategis yang lebih kompetitif namun juga lebih tidak terduga. Fragmentasi sistem global dapat membuka ruang manuver yang lebih luas bagi negara-negara menengah, memungkinkan mereka untuk melakukan hedging antar blok. Namun, hal ini juga dapat meningkatkan ketegangan geopolitik jika kompetisi antara blok BRICS+ dan aliansi tradisional Barat mengeras. Indonesia perlu mempertajam kapasitas analisis strategisnya untuk membaca dinamika internal Global South, sekaligus memperkuat peran sentral ASEAN sebagai platform tata kelola regional yang netral dan stabil. Keberhasilan navigasi Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuannya memanfaatkan peluang ekonomi dari multipolaritas yang muncul, sembari secara aktif meredam potensi dampak negatif terhadap stabilitas keamanan kawasan dari fragmentasi global yang berlebihan.

Entitas yang disebut

Organisasi: BRICS+, IMF, Bank Dunia

Lokasi: Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Iran, Ethiopia, Indonesia, AS, Global North, Global South