Sains

Kebangkitan Diplomasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Persaingan Global

08 Juni 2026 Global 14 views

Diplomasi sains dan teknologi telah menjadi instrumen strategis utama dalam persaingan hegemoni global, terutama antara AS dan China, yang memicu fragmentasi lanskap ilmiah internasional. Posisi strategis Indonesia di Indo-Pasifik membuatnya menjadi arena perebutan pengaruh teknologi, sehingga memerlukan pembangunan kedaulatan teknologi yang kuat untuk menjaga otonomi strategis dan menghindari kerentanan struktural.

Kebangkitan Diplomasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Persaingan Global

Landskap geopolitik global mengalami transformasi fundamental dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sebagai penentu utama kekuatan nasional dan hegemoni internasional. Tren yang digarisbawahi oleh jurnal Science menunjukkan bahwa diplomasi sains dan teknologi telah berevolusi dari instrumen kerja sama menjadi alat strategis dalam persaingan geopolitik, terutama antara Amerika Serikat dan China. Persaingan ini difokuskan pada penguasaan teknologi kritikal seperti kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, bioteknologi, dan eksplorasi ruang angkasa, yang kini menjadi tolok ukur keseimbangan kekuatan global serta penentu polarisasi aliansi-aliansi negara.

Aksi strategis negara-negara besar tidak lagi hanya berpusat pada penguatan kapasitas domestik, namun meluas ke manuver di arena global. Mereka secara agresif membangun jaringan laboratorium internasional, merebut talenta global, dan—yang paling signifikan bagi struktur kekuatan jangka panjang—berusaha menetapkan standar teknis global yang selaras dengan kepentingan dan sistem nilai nasionalnya. Perebutan dalam penetapan standar ini merupakan bentuk soft power yang paling subtil namun berdampak luas, karena akan mengarahkan perkembangan teknologi global dan mengunci keunggulan kompetitif bagi negara yang berhasil mendominasi.

Fragmentasi Lanskap Ilmiah Global dan Politisasi Kolaborasi

Dinamika geopolitik ini secara mendasar mengubah sifat kolaborasi ilmiah internasional, merombak ruang yang sebelumnya relatif apolitik. Pertimbangan keamanan nasional yang ketat, pembatasan ekspor teknologi sensitif, dan kampanye untuk memenangkan simpati komunitas ilmiah global telah mengkotori proses kolaborasi. Munculnya praktik 'techplomacy'—di mana negara mengirim duta besar khusus untuk berinteraksi langsung dengan perusahaan teknologi raksasa di pusat-pusat inovasi seperti Silicon Valley atau Shenzhen—menandai pergeseran pusat gravitasi diplomasi dari hubungan antar pemerintah ke hubungan dengan entitas swasta yang menguasai teknologi.

Fragmentasi yang didorong oleh persaingan antarblok memberikan tantangan eksistensial bagi organisasi multilateral seperti UNESCO yang berprinsip pada kerja sama ilmiah terbuka. Blok Barat yang dipimpin AS dan kelompok negara seperti Rusia serta Iran semakin mempertajam garis demarkasi dalam ekosistem inovasi global. Konsekuensi langsung adalah munculnya sphere of influence teknologi yang terpisah, sebuah fenomena yang dapat mempercepat pembentukan blok-blok teknologi yang saling tertutup dan bersaing, mengingatkan pada pola polarisasi politik di masa Perang Dingin namun dengan dimensi yang lebih kompleks dan menyebar.

Kerentanan Strategis dan Imperatif Kedaulatan Teknologi Indonesia

Untuk Indonesia, realitas baru ini bukan sekadar pergumulan di panggung global yang jauh, namun merupakan panggilan genting untuk membangun kedaulatan strategis di abad ke-21. Posisi geostrategis Indonesia di kawasan Indo-Pasifik, ditambah dengan ekonomi digital yang berkembang pesat, membuatnya menjadi ajang perebutan pengaruh teknologi antara kekuatan-kekuatan besar. Tanpa kapasitas iptek nasional yang kuat, mandiri, dan terintegrasi dengan diplomasi yang cerdas, Indonesia berisiko tinggi terjebak dalam posisi sebagai konsumen pasif teknologi asing dan menjadi objek dari persaingan geopolitik tersebut.

Konsekuensi dari kerentanan ini multidimensional. Hilangnya kemampuan untuk mengarahkan arus teknologi dan inovasi bagi kepentingan pembangunan nasional akan mengakibatkan ketergantungan struktural. Lebih lanjut, kerentanan dalam keamanan siber, tata kelola data, dan ketahanan sistem kritis nasional akan meningkat seiring dengan penetrasi teknologi asing yang tidak dikelola dengan prinsip kedaulatan. Penguasaan teknologi seperti AI dan komputasi kuantum bagi Indonesia kini bukan lagi soal efisiensi ekonomi atau modernisasi administratif, tetapi telah menjadi prasyarat mendasar untuk mempertahankan otonomi strategis dan menghadapi dinamika keseimbangan kekuatan yang semakin dipengaruhi oleh faktor teknologi.

Oleh karena itu, diplomasi Indonesia dituntut untuk mengembangkan lini depan baru yang secara proaktif mengintegrasikan agenda iptek ke dalam strategi hubungan internasional. Ini berarti tidak hanya meningkatkan kapasitas peneliti dan infrastruktur domestik, tetapi juga membangun jaringan kolaborasi internasional yang selektif dan strategis, berpartisipasi dalam forum penetapan standar global, serta melindungi kepentingan nasional dalam rezim tata kelola teknologi yang sedang dibentuk oleh kekuatan besar. Tanpa langkah-langkah transformatif ini, Indonesia akan terus berada dalam posisi reaktif dalam permainan geopolitik abad ke-21, dimana teknologi telah menjadi arena utama persaingan dan penentu hierarki kekuatan internasional.

Entitas yang disebut

Organisasi: Jurnal Science, UNESCO

Lokasi: AS, China, Rusia, Iran, Indonesia