Perspektif Global & Regional

Kebangkitan Poros Global Selatan: Analisis Peran Indonesia dalam G20 dan BRICS+

13 Juni 2026 Global 10 views

Kebangkitan Poros Global Selatan merepresentasikan pergeseran geopolitik menuju tatanan dunia multipolar, menantang dominasi Barat dalam tata kelola global. Indonesia, dengan kapital diplomasi dan posisi strategisnya, berpeluang menjadi fasilitator dan jembatan dalam blok ini sekaligus harus merumuskan strategi proaktif yang mengutamakan kepentingan nasional. Keberhasilan Indonesia menavigasi dinamika ini akan menentukan perannya sebagai arsitek atau sekadar penonton dalam pembentukan arsitektur internasional baru.

Kebangkitan Poros Global Selatan: Analisis Peran Indonesia dalam G20 dan BRICS+

Pasca-guncangan geopolitik pandemi global dan konflik Ukraina, peta kekuatan dunia mengalami rekonfigurasi signifikan. Fenomena kebangkitan Poros Global Selatan (Global South) muncul sebagai salah satu dinamika sentral abad ke-21, menantang hegemoni tatanan internasional yang selama ini didominasi oleh negara-negara Barat. Dorongan utama fenomena ini bukan hanya berasal dari aspirasi ekonomi, tetapi lebih pada tuntutan politik untuk representasi dan reformasi tata kelola global yang lebih adil. Forum-forum multilateral seperti G20, Dana Moneter Internasional (IMF), dan Bank Dunia menjadi arena perdebatan di mana negara-negara berkembang semakin vokal menuntut porsi pengambilan keputusan yang lebih seimbang. Dalam konteks ini, ekspansi BRICS+ dengan masuknya anggota baru mengukuhkan blok tersebut bukan sekadar sebagai klub ekonomi, melainkan sebagai poros geopolitik alternatif yang berpotensi mendefinisikan ulang arsitektur dunia multipolar.

Dinamika Internal dan Posisi Strategis Indonesia

Penting untuk dicatat bahwa Poros Global Selatan bukanlah entitas yang monolitik. Terdapat perbedaan kepentingan, kapasitas, dan visi yang sangat mencolok di dalamnya. Negara-negara dengan ekonomi besar dan pengaruh regional seperti India, Brasil, dan Indonesia sering kali memiliki agenda yang berbeda dengan negara berpendapatan menengah atau kecil lainnya. Di sinilah peran Indonesia menjadi sangat unik dan krusial. Sebagai ekonomi terbesar di ASEAN, pemegang presidensi G20 yang diakui sukses, dan negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia yang menjaga hubungan diplomatik yang relatif seimbang dengan semua kekuatan besar, Indonesia memiliki kapital diplomasi yang signifikan. Posisi ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk berfungsi sebagai bridge-builder dan fasilitator di dalam Poros Global Selatan, mendorong agenda kolektif yang substantif seperti transisi energi berkeadilan, reformasi pembiayaan pembangunan, dan sistem perdagangan global yang lebih inklusif.

Implikasi Geopolitik dan Keseimbangan Kekuatan

Kebangkitan blok ini memiliki implikasi mendalam terhadap keseimbangan kekuatan (balance of power) global. Eksistensi dan penguatan forum seperti BRICS+ serta artikulasi kepentingan kolektif di G20 mengindikasikan pergeseran dari sistem unipolar pasca-Perang Dingin menuju tatanan dunia yang lebih terfragmentasi dan kompetitif. Dinamika ini menciptakan lingkungan strategis yang kompleks bagi negara-negara berposisi tengah (middle powers) seperti Indonesia. Di satu sisi, terdapat peluang untuk memanfaatkan persaingan antar-kubu guna mendapatkan konsesi ekonomi, teknologi, dan investasi. Di sisi lain, terdapat risiko terperangkap dalam ketegangan geopolitik atau dipaksa untuk memilih sisi (forced alignment). Kemampuan Indonesia untuk menavigasi medan yang berliku ini akan sangat menentukan posisinya dalam tatanan baru yang sedang terbentuk.

Oleh karena itu, kebutuhan mendesak bagi Indonesia adalah merumuskan posisi luar negeri yang jelas, koheren, dan proaktif. Sekadar mengikuti narasi kolektif Poros Global Selatan tanpa strategi yang konkret dan berorientasi pada kepentingan nasional dapat membuat Indonesia kehilangan momentum dan keunggulan diplomasinya. Sebaliknya, dengan memanfaatkan secara optimal keanggotaannya di berbagai platform multilateral—mulai dari G20 dan ASEAN hingga Organisasi Kerja Sama Islam (OKI)—serta menjaga kemitraan komprehensif dengan pihak-pihak seperti China dan Amerika Serikat, Indonesia memiliki ruang manuver untuk mengartikulasikan visinya sendiri tentang tatanan dunia multipolar. Visi tersebut harus inklusif, berdasarkan hukum internasional, dan secara khusus dirancang untuk mengamankan arus investasi serta transfer teknologi yang vital bagi transformasi ekonomi dan pembangunan infrastruktur strategis nasional.

Dalam jangka panjang, efektivitas Poros Global Selatan dan peran Indonesia di dalamnya akan diuji oleh kemampuan untuk mentransformasikan retorika menjadi aksi kolektif yang nyata. Tantangannya terletak pada mengatasi heterogenitas kepentingan internal dan membangun institusi serta mekanisme kerja sama yang tahan terhadap tekanan geopolitik eksternal. Bagi Indonesia, ini bukan hanya soal diplomasi tinggi, tetapi juga tentang mengkonsolidasikan ketahanan ekonomi dan politik dalam negeri sebagai fondasi pengaruh internasional. Keputusan dan langkah strategis yang diambil hari ini akan menentukan apakah Indonesia mampu menjadi salah satu arsitek utama tatanan dunia baru, atau sekadar menjadi penonton dan obyek dari rivalitas kekuatan besar yang terus mengeras.