Perspektif Global & Regional

Kerjasama Pertahanan Quad dan Respon Negara-Negara ASEAN: Antara Peluang dan Ancaman

01 Agustus 2026 Indo-Pasifik, ASEAN 1 views

Konsolidasi Quad merepresentasikan upaya penyeimbangan strategis terhadap pengaruh Tiongkok di Indo-Pasifik, dengan fokus pada keamanan maritim dan infrastruktur tangguh. Respon terfragmentasi dari negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, mencerminkan dilema antara memanfaatkan kapasitas baru dan menjaga sentralitas serta otonomi regional. Implikasi jangka panjang bagi stabilitas kawasan bergantung pada kemampuan ASEAN untuk mengelola persaingan kekuatan besar tanpa terpolarisasi, dengan Indonesia memegang peran kunci dalam mendorong arsitektur keamanan yang inklusif dan dipimpin oleh kawasan itu sendiri.

Kerjasama Pertahanan Quad dan Respon Negara-Negara ASEAN: Antara Peluang dan Ancaman

Dalam peta geopolitik Indo-Pasifik yang semakin kompleks, kemunculan dan konsolidasi Quad—konsorsium strategis yang melibatkan Amerika Serikat, Jepang, India, dan Australia—merupakan respons langsung terhadap transformasi keseimbangan kekuatan regional. Fokus kelompok ini pada isu-isu keamanan maritim, infrastruktur tangguh, dan keamanan siber tidak bisa dilepaskan dari konteks naiknya asertivitas Tiongkok, yang memanifestasikan dirinya dalam klaim teritorial yang kontroversial, militerisasi titik-titik strategis, dan penggunaan alat ekonomi untuk tujuan politik. Meskipun dibingkai sebagai 'inklusif' dan 'non-militer', inisiatif seperti Indo-Pacific Maritime Domain Awareness (IPMDA) yang bertujuan meningkatkan kemampuan pengawasan negara-negara pesisir memiliki implikasi strategis yang gamblang: membangun jaringan ketahanan dan kesadaran situasional yang dapat mengimbangi dominasi Tiongkok di domain maritim, khususnya di jalur perdagangan vital seperti Laut Cina Selatan. Dengan demikian, Quad secara intrinsik beroperasi sebagai mekanisme penyeimbang (counter-balancing) dalam sistem internasional yang multipolar namun sangat kompetitif.

Dinamika Aktor dan Dilema ASEAN Centrality

Posisi negara-negara ASEAN dalam kalkulasi geopolitik ini bersifat fundamental namun rawan. Secara kolektif, ASEAN telah lama mempromosikan konsep ASEAN Centrality sebagai prinsip pengaturan tatanan regional, menekankan netralitas, inklusivitas, dan diplomasi konsensus. Namun, konsolidasi Quad yang bertujuan mengisi 'kekosongan strategis' di Indo-Pasifik, pada satu sisi menyediakan opsi-alternatif bantuan kapasitas dan investasi infrastruktur yang dibutuhkan. Di sisi lain, ia mengancam mengikis sentralitas tersebut dengan secara efektif menciptakan struktur keamanan paralel di luar kerangka ASEAN. Respon yang beragam dari negara anggota ASEAN—dari keterlibatan pragmatis hingga kehati-hatian yang dalam—mencerminkan realitas geopolitik yang terfragmentasi. Negara-negara seperti Vietnam dan Filipina, yang menghadapi tekanan langsung di Laut Cina Selatan, cenderung melihat inisiatif Quad sebagai sumber daya untuk memperkuat kapasitas pertahanan dan diplomasi mereka. Sementara itu, anggota seperti Kamboja dan Laos, dengan keterikatan ekonomi dan politik yang dalam dengan Beijing, memandang kelompok ini dengan skeptisisme. Fragmen respons ini berpotensi melemahkan kohesi dan suara kolektif ASEAN, justru di saat persatuan paling dibutuhkan untuk menjaga otonomi strategisnya.

Manuver Strategis Indonesia: Antara Bilateralisme dan Kepemimpinan Regional

Bagi Indonesia, negara poros maritim dan kekuatan terbesar di ASEAN, dinamika ini menempatkannya pada posisi perhitungan strategis yang sangat rumit. Secara bilateral, Jakarta telah membangun kemitraan keamanan maritim yang kuat dan saling menguntungkan dengan masing-masing anggota Quad. Latihan bersama dengan Amerika Serikat (seperti Garuda Shield), Jepang, India, dan Australia memberikan akses teknologi, peningkatan kapasitas, dan pelatihan bagi TNI, khususnya AL dan AU. Pendekatan bilateral yang luwes ini memungkinkan Indonesia menuai manfaat praktis dari inisiatif Quad, seperti akses ke teknologi pengawasan maritim IPMDA, tanpa harus terikat secara formal pada kelompok yang memiliki agenda geopolitik yang jelas. Namun, di tingkat regional, peran Indonesia lebih kompleks. Sebagai pendukung utama ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP), Indonesia berkepentingan untuk memastikan bahwa semua kerja sama eksternal, termasuk yang melibatkan Quad, tidak melemahkan tetapi justru memperkuat kerangka kerja ASEAN. Diplomasi yang cermat dibutuhkan untuk mencegah interpretasi bahwa keterlibatan Jakarta dengan Quad merupakan bagian dari aliansi anti-Tiongkok, yang dapat merusak hubungan ekonomi yang vital dengan Beijing dan menimbulkan perpecahan di dalam tubuh ASEAN. Pilihan strategis Indonesia, karenanya, bukanlah antara pro-Quad atau pro-Tiongkok, tetapi bagaimana memanfaatkan semua kemitraan untuk memaksimalkan kapasitas nasional sambil menjaga netralitas aktif dan kepemimpinan dalam membentuk arsitektur keamanan inklusif di kawasan.

Implikasi jangka panjang dari konsolidasi Quad terhadap stabilitas kawasan bergantung pada dua faktor utama: respon Tiongkok dan ketahanan kohesi ASEAN. Respon Beijing yang mungkin, mulai dari peningkatan diplomasi ekonomi hingga tekanan militer yang lebih tegas, dapat memaksa negara-negara ASEAN untuk membuat pilihan yang semakin sulit, sehingga mempercepat proses polarisasi yang selama ini ingin dihindari. Selain itu, efektivitas inisiatif infrastruktur Quad dalam menawarkan alternatif yang benar-benar layak dan bebas dari beban politik—dibandingkan dengan skema seperti Belt and Road Initiative (BRI) Tiongkok—akan menentukan daya tariknya. Bagi Indonesia dan ASEAN, tantangan ke depan adalah mengelola persaingan kekuatan besar ini dengan cara yang mengubahnya dari ancaman terhadap sentralitas menjadi peluang untuk meningkatkan peran penengah dan normatif mereka. Kunci keberhasilan terletak pada kemampuan ASEAN untuk menawarkan platform yang relevan, meningkatkan kapasitas kolektifnya, dan memastikan bahwa kerja sama dengan pihak eksternal mana pun tunduk pada prinsip-prinsip dan prioritas yang ditetapkan sendiri oleh kawasan. Kegagalan dalam hal ini bukan hanya akan mendegradasi ASEAN Centrality menjadi retorika kosong, tetapi juga dapat mengubah kawasan Indo-Pasifik menjadi arena pertarungan proxy yang lebih tidak stabil.

Entitas yang disebut

Organisasi: Quad, Amerika Serikat, Jepang, India, Australia, ASEAN, Indonesia, Beijing

Lokasi: Indo-Pasifik, Laut Cina Selatan, Indonesia, Beijing