Perspektif Global & Regional

KTT ASEAN 2025 dan Tantangan Sentralitas di Tengah Tarikan Rivalitas AS-Cina

14 Juli 2026 ASEAN, Asia Tenggara 13 views

KTT ASEAN 2025 menyoroti ancaman pelemahan sentralitas ASEAN akibat penetrasi rivalitas AS-Cina yang memicu fragmentasi internal. Posisi Indonesia sebagai penjaga keseimbangan dan pemersatu diuji, sementara kegagalan menjaga kohesi ASEAN berisiko mengurangi relevansi kawasan dan kapasitas strategis Jakarta. Penguatan diplomasi kolektif dan konsensus internal tanpa campur tangan eksternal menjadi keharusan strategis bagi Indonesia dan ASEAN.

KTT ASEAN 2025 dan Tantangan Sentralitas di Tengah Tarikan Rivalitas AS-Cina

Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN 2025 tidak hanya menjadi agenda rutin diplomasi regional, tetapi muncul sebagai momen kritis yang memaksa evaluasi mendalam atas fondasi sentralitas ASEAN. Konsep sentralitas, yang menempatkan blok regional sebagai poros utama stabilitas dan kerjasama di kawasan Asia Tenggara, menghadapi ujian berat di tengah rivalitas strategis Amerika Serikat dan Cina yang semakin intensif dan multi-dimensi. Tarikan kedua kekuatan adidaya ini berpotensi mentransformasi ruang geopolitik ASEAN menjadi medan kompetisi pengaruh (proxy competition), bahkan mendorong fragmentasi internal yang dapat melumpuhkan mekanisme kolektif. Isu-isu seperti sengketa Laut Cina Selatan, pembentukan kemitraan keamanan eksternal melalui format ASEAN Plus, hingga persaingan standar teknologi 5G dan infrastruktur kritis, secara nyata menguji ketahanan solidaritas ASEAN dan kapasitasnya untuk bertindak sebagai satu kesatuan.

Fragmentasi Internal dan Tarikan Rivalitas Geo-strategis

Dinamika geopolitik internal ASEAN mengungkap pola keanggotaan yang terbentuk oleh kedekatan dan ketergantungan terhadap kekuatan besar eksternal. Negara-negara garis depan seperti Filipina dan Vietnam, yang menghadapi tekanan langsung dari klaim maritim Cina, cenderung mengadopsi sikap lebih tegas dan secara natural lebih terbuka terhadap pendekatan serta jaminan keamanan dari Amerika Serikat dan sekutunya. Di sisi lain, negara-negara di daratan Asia Tenggara seperti Kamboja dan Laos, yang terikat secara ekonomi dan politik dengan Beijing, seringkali menunjukkan kecenderungan untuk menyelaraskan posisi dengan kepentingan Cina dalam forum-forum ASEAN. Polarisasi semacam ini merupakan manifestasi konkret dari bagaimana rivalitas AS-Cina menembus dan menggerogoti kohesi internal blok. Dalam konteks ini, peran ketua ASEAN dan kekuatan pendiri seperti Indonesia menjadi sangat krusial, namun sekaligus sangat kompleks.

Indonesia, dengan statusnya sebagai kekuatan terbesar dan pemimpin informal, telah berusaha menjalankan politik luar negeri bebas-aktif dengan menekankan netralitas, persatuan ASEAN, dan penyelesaian sengketa melalui mekanisme berbasis aturan, seperti upaya finalisasi Code of Conduct (COC) di Laut Cina Selatan. Namun, efektivitas diplomasi Jakarta diuji secara langsung oleh kemampuannya untuk memediasi perbedaan kepentingan yang sangat mendasar di antara negara anggota. Tantangan terbesar adalah menjaga agar perbedaan sikap terhadap kekuatan eksternal tidak melumpuhkan proses pengambilan keputusan kolektif atau, yang lebih buruk, menjadikan KTT ASEAN sekadar panggung bagi deklarasi-deklarasi yang tidak memiliki daya dorong operasional nyata.

Implikasi Strategis bagi Stabilitas Kawasan dan Posisi Indonesia

Pelemahan sentralitas ASEAN membawa implikasi geopolitik yang serius bagi struktur keamanan regional. Jika relevansi ASEAN sebagai kekuatan kolektif memudar, negara-negara anggota akan semakin terdorong untuk mencari jaminan keamanan melalui aliansi atau kemitraan bilateral eksklusif dengan kekuatan besar di luar kawasan. Skenario ini bukan hanya akan mengakselerasi fragmentasi internal, tetapi juga secara fundamental mengubah balance of power di Asia Tenggara menjadi lebih tidak stabil dan dipenuhi oleh persaingan blok. Bagi Indonesia, kegagalan ASEAN berarti hilangnya platform diplomasi multilateral utama untuk memproyeksikan pengaruh dan kepentingan nasionalnya. Tanpa ASEAN yang kuat dan bersatu, kapasitas Jakarta untuk berbicara sebagai pemimpin regional dan menjadi mitra yang setara bagi kekuatan global akan sangat berkurang.

Oleh karena itu, kepentingan strategis Indonesia secara langsung terikat pada penguatan kohesi dan kapasitas ASEAN. Ini mengharuskan investasi sumber daya diplomatik dan politik yang lebih besar dan lebih cerdas dari Jakarta. Salah satu inisiatif potensial yang perlu dipertimbangkan adalah mendorong atau memimpin dialog keamanan eksklusif yang hanya melibatkan negara-negara ASEAN, sebelum membawa isu-isu kritis ke forum yang melibatkan pihak eksternal. Tujuannya adalah untuk membangun dan mengkonsolidasikan konsensus internal terlebih dahulu, sehingga ASEAN dapat berinteraksi dengan kekuatan besar dari posisi yang lebih kuat dan terkoordinasi. Dalam jangka panjang, daya tahan sentralitas ASEAN tidak hanya akan menentukan masa depan blok regional itu sendiri, tetapi juga kemampuan Asia Tenggara dalam merumuskan tatanan regionalnya sendiri, alih-alih menjadi objek pasif dari rivalitas kekuatan besar global.