Perspektif Global & Regional

Peningkatan Aktivitas Militer China di Laut China Selatan dan Respons Diplomasi ASEAN: Analisis terhadap Efektivitas DOC dan COC

02 Juni 2026 Laut China Selatan, ASEAN 13 views

Peningkatan aktivitas militer dan klaim China di Laut China Selatan telah mengubah kawasan menjadi arena persaingan kekuatan global, sekaligus menguji kohesi dan kapasitas ASEAN. Fragmentasi internal ASEAN melemahkan daya tawar kolektif dan menghambat efektivitas DOC serta negosiasi COC, berpotensi mendegradasi sentralitas ASEAN dan memicu perlombaan senjata. Bagi Indonesia, situasi ini mengancam kedaulatan di Natuna dan dapat memaksa reorientasi strategi keamanan, sementara masa depan kawasan bergantung pada kemampuan ASEAN menjaga disiplin kolektif menghadapi tekanan geopolitik.

Peningkatan Aktivitas Militer China di Laut China Selatan dan Respons Diplomasi ASEAN: Analisis terhadap Efektivitas DOC dan COC

Lanskap geopolitik regional Asia Tenggara saat ini ditentukan oleh dinamika ketegangan di Laut China Selatan, yang telah melampaui statusnya sebagai sekadar sengketa maritim bilateral dan bermetamorfosis menjadi teater persaingan kekuatan global yang paling kompleks. Aktivitas militer dan pembangunan infra-struktur strategis China yang intensif di wilayah klaimnya yang tumpang-tindih dengan beberapa anggota ASEAN telah mengukuhkan kawasan ini sebagai pusat gravitasi untuk analisis balance of power. Konteks global menunjukkan bahwa friksi di perairan ini merupakan cerminan dari kompetisi strategis antara Amerika Serikat dan China, sekaligus menjadi ujian krusial bagi kemampuan ASEAN mempertahankan peran sentralnya dalam tata kelola Indo-Pasifik. Dalam kondisi ini, efektivitas mekanisme diplomasi kawasan, khususnya DOC (Declaration on the Conduct of Parties), diperdebatkan ketajamannya, sementara negosiasi menuju COC (Code of Conduct) yang mengikat menemui jalan buntu akibat perbedaan kepentingan geopolitik yang fundamental.

Fragmentasi Internal ASEAN dan Kemacetan Diplomasi Normatif

Respons terhadap konsolidasi posisi China di Laut China Selatan memperlihatkan fragmentasi yang jelas di tubuh ASEAN, yang pada gilirannya melemahkan kapasitas kolektif asosiasi. Negara-negara pengklaim langsung seperti Vietnam dan Filipina cenderung mengambil sikap vokal dan proaktif menentang tindakan unilateral, sementara anggota lain seperti Kamboja dan Laos memilih sikap yang lebih berhati-hati dan cenderung menghindari konfrontasi. Perpecahan internal ini merupakan kendala struktural bagi pembentukan front diplomasi yang solid, yang sangat dibutuhkan untuk membangun daya tawar kolektif. China, dengan cermat, memanfaatkan fragmentasi ini melalui diplomasi bilateral selektif dan strategi fait accompli, sehingga secara de facto memperkuat klaimnya sembari menguji batas-batas kohesi ASEAN. Proses COC pun terperangkap dalam dilema klasik: keinginan untuk menciptakan instrumen yang memiliki mekanisme penegakan (enforcement mechanism) kuat berseberangan dengan keengganan negara-negara, termasuk China, untuk membatasi ruang gerak kedaulatan dan strategisnya secara permanen.

Implikasi geopolitik dari dinamika ini bersifat sangat signifikan terhadap keseimbangan kekuatan di kawasan. Tanpa konsensus yang kuat dan mekanisme penegakan yang kredibel, terdapat risiko nyata bahwa ASEAN akan terdegradasi perannya menjadi penonton dalam penyelesaian konflik di wilayahnya sendiri. Ketidakmampuan untuk menjaga disiplin kolektif dalam merespons aktivitas militer dan klaim unilateral mengancam dua pilar utama: prinsip sentralitas ASEAN dan tatanan berbasis aturan (rules-based order). Ancaman terhadap tatanan ini dapat mendorong negara anggota untuk mencari jaminan keamanan secara individual di luar kerangka ASEAN, baik melalui pendekatan ke kuad aliansi seperti AUKUS dan Quad, maupun melalui program militerisasi nasional yang lebih agresif. Skenario ini berpotensi memicu perlombaan senjata dan destabilisasi regional dalam skala yang lebih luas.

Relevansi Strategis bagi Indonesia dan Masa Depan Tata Kelola Kawasan

Indonesia, selaku kekuatan maritim utama di ASEAN dan negara yang memiliki Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang berbatasan dengan klaim China di Natuna, memiliki kepentingan strategis langsung dalam resolusi konflik Laut China Selatan. Stabilitas di perairan tersebut bukan hanya soal keamanan jalur pelayaran global, tetapi juga menyangkut integritas kedaulatan dan hak-hak ekonomi Indonesia atas sumber daya lautnya. Ketegangan yang berlarut-larut dan melemahnya mekanisme penyelesaian sengketa multilateral melalui ASEAN dapat memaksa Indonesia untuk mengambil posisi yang lebih tegas, mengalokasikan sumber daya pertahanan yang lebih besar untuk kawasan Natuna, dan terlibat lebih dalam dalam aliansi keamanan minilateral. Posisi Indonesia sebagai ‘pendamai’ dan penjaga ketenangan di ASEAN akan semakin sulit dipertahankan jika instrumen seperti DOC dan COC terbukti tidak efektif meredam eskalasi.

Melihat ke depan, prospek jangka menengah hingga panjang bagi Laut China Selatan tampaknya akan terus diwarnai oleh ketegangan terkendali (managed tensions). Negosiasi COC kemungkinan akan tetap berjalan lambat, sementara konsolidasi de facto oleh China akan terus berlanjut. Titik kritis akan tercapai ketika tindakan unilateral tertentumemicu respons militer yang lebih langsung dari negara pengklaim lain atau kekuatan eksternal seperti Amerika Serikat. Bagaimanapun, episode ini menegaskan suatu pelajaran geopolitik yang penting: bahwa efektivitas suatu organisasi regional sangat bergantung pada kesatuan visi dan komitmen anggotanya untuk bertindak kolektif dalam menghadapi tekanan dari kekuatan besar. Masa depan tata kelola Indo-Pasifik, dan posisi ASEAN di dalamnya, sangat ditentukan oleh kemampuan asosiasi ini mengatasi ujian terberatnya di Laut China Selatan.

Entitas yang disebut

Organisasi: ASEAN

Lokasi: China, Laut China Selatan, Vietnam, Filipina, Cambodia, Laos, Indonesia