Perspektif Global & Regional

Rivalitas AS-China di Pasifik Selatan: Diplomasi Infrastruktur dan Perebutan Pengaruh di Kawasan 'Lingkar Kedua' Indonesia

13 Mei 2026 Pasifik Selatan 6 views

Persaingan strategis AS-China di Pasifik Selatan telah mengubah kawasan ini menjadi arena great power competition, dengan China menggunakan diplomasi infrastruktur BRI dan AS menawarkan narasi kemitraan alternatif. Perkembangan ini secara langsung mengancam 'lingkar kedua' pertahanan Indonesia, berpotensi mengubah peta ancaman strategis dan kestabilan kawasan. Posisi Indonesia dan respons ASEAN menjadi penentu kunci untuk menjaga keseimbangan kekuatan dan mencegah polarisasi penuh di Pasifik Selatan.

Rivalitas AS-China di Pasifik Selatan: Diplomasi Infrastruktur dan Perebutan Pengaruh di Kawasan 'Lingkar Kedua' Indonesia

Perubahan lanskap kontestasi kekuatan global kini menunjukkan perluasan yang signifikan ke wilayah Pasifik Selatan, menggeser fokus dari konsentrasi tradisional di Indo-Pasifik Barat. Kawasan yang terdiri dari negara-negara kepulauan kecil ini telah bertransformasi dari zona marjinal menjadi arena great power competition yang intens, terutama antara Amerika Serikat dan China. Pergeseran ini merepresentasikan perluasan wilayah pengaruh dari konsep pertahanan 'Rantai Pertama' ke 'Rantai Kedua', menandai fase ekspansif dalam persaingan strategis di mana kepulauan-kepulauan ini menjadi pion penting dalam perebutan balance of power regional. Latar utamanya adalah pendekatan ekspansif China yang menggunakan instrumen ekonomi dan diplomasi infrastruktur secara agresif, memicu respons sistematis dari Washington dan sekutu tradisionalnya seperti Australia dan Selandia Baru dalam upaya mempertahankan hierarki pengaruh yang ada.

Dinamika Kontestasi: Infrastruktur dan Tandingan Normatif

China mengeksekusi strateginya melalui pendekatan Diplomasi Infrastruktur yang terintegrasi dalam kerangka Belt and Road Initiative (BRI). Pendekatan ini tidak hanya membangun aset fisik seperti pelabuhan dan jaringan jalan, tetapi secara strategis dirancang untuk menciptakan ketergantungan ekonomi dan politik jangka panjang pada negara-negara penerima. Capaian konkret dari pendekatan ini termasuk perjanjian keamanan dengan Kepulauan Solomon pada 2022 dan kerja sama serupa dengan Kiribati, yang telah membuka pintu bagi kehadiran strategis Beijing yang lebih substantif di jantung kawasan. Di sisi lain, Amerika Serikat dan aliansinya merespons dengan skema yang lebih menekankan pada narasi tandingan. Mereka meningkatkan bantuan pembangunan, membuka kembali kedutaan besar, dan secara terpenting mempromosikan model kemitraan alternatif yang mengusung prinsip keberlanjutan, transparansi, dan berbasis aturan internasional. Inisiatif kolektif Partners in the Blue Pacific (PBP) berfungsi sebagai wadah untuk menawarkan tandingan normatif langsung terhadap model Beijing, menunjukkan bahwa pertarungan di kawasan ini bersifat multidimensi—tidak hanya material, tetapi juga menyangkut framing dan persepsi legitimasi.

Implikasi Geostrategis terhadap Lingkar Kedua Indonesia

Intensifikasi persaingan Amerika Serikat dan China di Pasifik Selatan berdampak langsung dan mendalam pada kerangka keamanan nasional Indonesia. Secara doktrinal, kawasan ini merupakan 'lingkar kedua' pertahanan Indonesia, sebuah zona penyangga maritim yang secara geografis menyatu dengan wilayah Papua dan perairan teritorialnya. Setiap perubahan dalam keseimbangan kekuatan di Pasifik Selatan, terlebih apabila melibatkan pembangunan fasilitas militer atau pangkalan logistik dual-use oleh kekuatan ekstra-regional, akan secara fundamental mengubah peta ancaman strategis dan kalkulasi keamanan Jakarta. Laut yang menghubungkan Pasifik Selatan dengan wilayah Indonesia timur berfungsi sebagai jalur logistik vital dan sekaligus sebagai potensi jalur akses militer bagi kekuatan asing. Oleh karena itu, mempertahankan stabilitas dan netralitas relatif kawasan ini bukan sekadar prioritas diplomatik, melainkan sebuah kepentingan nasional yang vital yang terkait langsung dengan kedaulatan dan integritas teritorial Republik Indonesia.

Interaksi kompleks antara model diplomasi infrastruktur Tiongkok dan narasi kemitraan yang digaungkan oleh Amerika Serikat menciptakan lingkungan yang penuh dinamika bagi negara-negara pulau di Pasifik Selatan. Negara-negara seperti Fiji, Papua Nugini, dan Vanuatu kini memiliki lebih banyak pilihan—dan juga tekanan—dalam mengelola hubungan internasional mereka. Realitas ini memunculkan risiko fragmentasi kawasan menjadi blok-blok pengaruh yang terpolarisasi, di mana loyalitas terbelah berdasarkan insentif ekonomi atau keamanan yang ditawarkan. Dalam jangka menengah, konsekuensinya adalah meningkatnya volatilitas politik domestik di negara-negara pulau tersebut, serta potensi eskalasi insiden di laut yang dapat melibatkan kekuatan besar. Untuk jangka panjang, penguatan kehadiran militer dan keamanan dari kedua belah pihak di kawasan ini berpotensi mengubah Pasifik Selatan dari zona damai menjadi medan persaingan garis depan, yang pada gilirannya akan memaksa negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia, untuk menata ulang postur pertahanan dan kebijakan luar negerinya secara signifikan guna menghadapi arsitektur keamanan regional yang baru.

Analisis ini menunjukkan bahwa persaingan di Pasifik Selatan bukan fenomena yang terisolasi, melainkan cerminan dari rekonfigurasi tatanan global yang lebih luas. Respon Indonesia dan negara-negara anggota ASEAN lainnya akan menjadi penentu kunci dalam menjaga agar kawasan Indo-Pasifik tetap terbuka, stabil, dan tidak didominasi oleh satu kekuatan tunggal. Ke depan, pilihan strategis negara-negara pulau Pasifik dalam memilih model kemitraan akan terus menjadi barometer efektivitas pendekatan kedua kekuatan besar. Bagi Indonesia, mengintegrasikan diplomasi Pasifik Selatan ke dalam strategi Poros Maritim Dunia bukan lagi sekadar opsi, melainkan sebuah keharusan strategis untuk mengamankan kedaulatan dan kepentingan nasional di abad maritim.

Entitas yang disebut

Organisasi: AS, China, Partners in the Blue Pacific (PBP)

Lokasi: Pasifik Selatan, Kepulauan Solomon, Kiribati, Australia, Indonesia, Papua