Perspektif Global & Regional

Rivalitas AS-China di Pasifik: Ujian Diplomasi Poros Maritim Indonesia

17 Juni 2026 Kawasan Pasifik, Indonesia 13 views

Rivalitas AS-China di kawasan Pasifik, yang diwujudkan melalui perebutan pengaruh di negara-negara kepulauan kecil, telah menciptakan arena geopolitik baru yang mengancam stabilitas regional. Sebagai negara Poros Maritim Dunia dengan kepentingan strategis langsung di perbatasan timur, Indonesia dihadapkan pada ujian diplomasi untuk menawarkan kerja sama alternatif yang netral dan berkelanjutan. Ke depan, Indonesia perlu mengintegrasikan Pasifik secara lebih serius ke dalam strategi luar negeri dan pertahanannya, meningkatkan keterlibatan di forum regional, dan memperkuat kerja sama di bidang pembangunan berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan kekuatan dan stabilitas di "halaman belakang" maritimnya.

Rivalitas AS-China di Pasifik: Ujian Diplomasi Poros Maritim Indonesia

Kompetisi strategis antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat China telah meluas ke kawasan Pasifik, sebuah ruang maritim yang sebelumnya sering dianggap sebagai "lautan belakang" dalam peta geopolitik global. Perebutan pengaruh ini termanifestasi melalui pembangunan infrastruktur dan perjanjian keamanan dengan negara-negara kepulauan kecil, seperti Kepulauan Solomon dan Kiribati, yang kini menjadi pion strategis dalam rivalitas antara dua raksasa tersebut. Dinamika ini mengubah lanskap keamanan regional, menjadikan kawasan Pasifik sebagai arena kontestasi baru yang memiliki implikasi mendalam bagi stabilitas Indo-Pasifik secara keseluruhan. Pergeseran ini tidak hanya menyangkut persaingan bilateral antara AS dan China, tetapi juga merekonfigurasi arsitektur keamanan dan tata kelola kawasan.

Dinamika Aktor dan Pergeseran Keseimbangan Kekuatan di Pasifik

Pendekatan kedua negara dalam memperluas pengaruhnya di Pasifik mencerminkan paradigma yang berbeda sekaligus saling bersaing. Inisiatif China yang berfokus pada investasi infrastruktur besar-besaran melalui skema seperti Belt and Road Initiative (BRI), khususnya di sektor pelabuhan dan komunikasi, sering dikritik oleh pihak Barat sebagai strategi yang berpotensi menjerat utang (debt-trap diplomacy). Sebaliknya, AS dan sekutu tradisionalnya seperti Australia dan Selandia Baru, menekankan kembali komitmen keamanan dan kerja sama pembangunan yang lebih bersifat militeristik, termasuk revitalisasi aliansi seperti AUKUS dan penandatanganan Perjanjian Keamanan dengan Kepulauan Solomon. Dua pendekatan ini—satu ekonomi-sentris dan satu lagi keamanan-sentris—menciptakan medan tarik-menarik yang kompleks bagi negara-negara kepulauan kecil. Forum Pacific Islands Forum (PIF) sebagai organisasi regional pun menghadapi tekanan untuk menjaga kohesi internal di tengah godaan kepentingan eksternal yang saling berbenturan.

Bagi Indonesia, gejolak di Pasifik ini bukanlah fenomena yang jauh. Secara geopolitik, kawasan ini merupakan perluasan langsung dari "halaman belakang" timur Nusantara, yang berbatasan langsung dengan Provinsi Papua. Setiap peningkatan aktivitas militer atau kehadiran kekuatan asing yang mendekat dapat secara langsung memengaruhi persepsi keamanan nasional, khususnya terkait integritas wilayah dan kedaulatan di perbatasan. Lebih jauh, stabilitas di lintasan laut yang menghubungkan Samudra Pasifik dengan Samudra Hindia—sebuah jalur pelayaran global yang vital—menjadi kepentingan nasional yang krusial bagi Indonesia sebagai negara poros maritim. Oleh karena itu, ketegangan di kawasan ini berpotensi mengganggu visi Indonesia untuk menjadi Poros Maritim Dunia, yang mensyaratkan lingkungan laut yang aman, stabil, dan terbuka untuk kerja sama.

Ujian Diplomasi dan Strategi Jangka Panjang Indonesia

Diplomasi Indonesia dihadapkan pada ujian yang kompleks untuk memosisikan diri sebagai mitra yang netral, tepercaya, dan konstruktif di tengah rivalitas yang memanas. Tantangannya adalah menawarkan model kerja sama pembangunan yang berbeda, yang tidak terjebak dalam dikotomi pilihan antara pembiayaan infrastruktur dari Beijing yang sarat dengan kekhawatiran politik atau paket bantuan dari Washington dan Canberra yang terlalu bernuansa keamanan. Indonesia memiliki modal sosial dan budaya yang kuat, khususnya hubungan historis dengan kawasan Melanesia, yang dapat menjadi dasar untuk pendekatan yang lebih organik dan berkelanjutan. Fokus pada isu-isu lintas batas seperti perubahan iklim, pembangunan ekonomi biru, dan ketahanan pangan dapat menjadi jalur diplomasi yang efektif dan substantif, sekaligus selaras dengan kepentingan bersama negara-negara kepulauan di Pasifik.

Implikasi jangka panjang mengharuskan Indonesia untuk secara strategis memasukkan kawasan Pasifik ke dalam peta kebijakan luar negeri dan pertahanannya yang lebih komprehensif. Peningkatan keterlibatan dan kehadiran di forum-forum regional seperti PIF adalah langkah awal yang perlu diperdalam. Lebih dari sekadar diplomasi multilateral, diperlukan suatu kerangka kerja sama bilateral dan minilateral yang konkret, misalnya dalam pengawasan perikanan, penanganan bencana, dan penguatan kapasitas maritim negara-negara pulau. Dari perspektif pertahanan, dinamika di Pasifik memerlukan evaluasi ulang terhadap doktrin dan postur keamanan di wilayah timur Indonesia, memastikan bahwa penguatan kedaulatan dan pengawasan maritim dapat mengantisipasi segala potensi ketidakstabilan yang mungkin merambat dari timur. Pada akhirnya, kemampuan Indonesia untuk berkontribusi pada stabilitas di Pasifik akan menjadi tolak ukur nyata dari klaimnya sebagai poros maritim yang berpengaruh di kawasan Indo-Pasifik.

Entitas yang disebut

Organisasi: Pacific Islands Forum

Lokasi: Amerika Serikat, China, Pasifik, Indonesia, Kepulauan Solomon, Kiribati, Melanesia, Samudra Pasifik, Samudra Hindia, Papua